Skip to content

Nasehat yang Tidak Pada Tempatnya

Nasehat yang Tidak Pada TempatnyaOrang yang berani memberikan nasehat kepada penguasa adalah seperti orang yang bercanda dengan seekor singa buas. Sebagaimana dai mendengar bahwa Fudhail bin Iyadah pernah memberikan nasehat kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid. Dan Abu Sufyan Ats-Tsauri juga pernah memberikan nasehat kepada Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur. Mereka ingin meniru seperti yang dilakukan oleh Fudhail dan Ats-Tsauri pada saat itu. Tetapi mereka lupa bahwa para peguasa yang mereka hadapi sekarang ini tidak seperti Abu Ja’far Al-Manshur dan Harun Ar-Rasyid.

Semoga Allah merahmati seorang yang tahu kapasitas dirinya. Pada ghalibnya, seorang penguasa itu cenderung tidak mau menerima nasehat, terlebih yang disampaikan didepan orang banyak. Sebab, hal itu bisa mengancam kedudukannya yang tidak mungkin ia biarkan terlepas begitu saja.

Ada sementara orang yang ingin memberikan nasehat kepada penguasa. Ia menyanjung dan memuji-muji si penguasa dengan harapan bisa mendapatkan imbalan. Akibatnya, nasehat yang seharusnya pahit rasanya menjaddi manis. Orang yang seperti itu tidak ada bedanya dengan pengemis atau penjilat.

Ada pula sementara orang lebih dahulu sifat-sifat si  penguasa yang bergaul akrab dengan penguasa supaya ia leluasa memberikan nasehat kepadanya. Tetapi ia lalu menaguhkan nasehatnya dengan dalih akan mempelajari lebih dahulu sifat-sifat penguasa tersebut. Dan ketika ia menjadi orang dekat si penguasa, ia lupa memmberikan nasehatnya.

Bersyukurlah kepada Allah kapan saja. Jangan memaksakan diri anda dalam masalah ini. Sesungguhnya menolak mudharat itu harus lebih diutamakan daripada mencari  maslahat. Ketahuilah, bahwa pada umumnya orang yang memberi nasehat pada masa sekarang ini mengalami kritis keikhlasan, atau ilmu, atau hikmah, atau pengetahuan terhadap karakter penguasa. Akibatnya, ia terjebak dalam posisi yang sulit.

Jangan terkecoh oleh cerita sebagain ulama memberi nasehat yang mengatakan, “kami pernah memberikan nasehat kepada si penguasa itu, dan ia mau menerima nasehat kami” mereka hanya membaca dari sikap lahiriah sipenguasa yang mengangguk-nganggukan kepala ketika sedang dinasehati, sehingga mereka mengira bahwa si penguasa menerima nasehat mereka. Ketahilah, sesungguhnya penguasa itu punnya karakter sebagai tukang tipu daya dan pembuat mekar yang pintar. Ia bisa memainkan sandiwara apa saja.

Para ulama memberi nasehat yang lugu seperti mereka tadi, pasti mengira bahwa mereka telah berhasil menaklukan hati sipenguasa yang mereka berikan nasehat tersebut. Padahal itu tadi itu adalah termasuk trik iblis. Setahu saya, setiap ulama yang bergaul akrab dengan penguasa bahkan sampai menjadi orang dekatnya, ia akan kehilangan cahaya ilmu, kewibawaan agama, dan kemuliaan sifat wira’i. Sejarah telah membuktikan hal itu.

Published inNasehat Khalifah