Skip to content

Ucapan yang Merubah Sejarah

Ucapan yang Merubah SejarahMenjelang Perang Badar, Rasulullah Saw meyampaikan pidato mengesankan yang mampu mendekatkan surga bagi para pendambah kebahagiaan, membekikin gerah untuk tidak ikut perang bagi para pencinta dunia, dan semakin merindukan kematian bagi orang-orang yang memburunya. Akhirnya, orang-orang mukmin saling berlomba membuktikan pidato beliau.

Ketika sedang bertempur dengan musuh, mereka seakan-akan sedang menuju untuk memasuki delapan pintu surga yang terbuka lebar, atau sedang mengelilingi telaga al-kautsar, atau sedang memegangi gelas surga.

Sehari sebelum perang uhud, Rasulullah Saw menyampaikan pidato yang membuat para patriot enggan enak-enakan tinggal di Madinah, tetapi memilih berbondong-bondong berangkat kemedan uhud. Suara pidato beliau terngiang-ngiang ditelinga. Mereka seperti melihat satuan-satuan pasukan pemberi yang tengah mengibarkan bendera kemenengan.

Ketika Rasulullah Saw wafat, pidato beliau masih tetap terngiang-ngiang dan meninggalkan bekas yang mendalam dihati sanubari para sahabat. Abu Bakar As-sidiq RA berdiri menyampaikan bela sungkawa yang mampu mengobati luka, menghentikan cucuran air mata, menghibur lara, mengelus duka dan menentramkan jiwa.

Seolah-olah apa yang disampaikan oleh Abu Bakar adalah ucapan yang baru turun dari alam ghaib dibawah oleh para sayap-sayap para malaikat.

Thariq bin Ziyad melintasi laut untuk menghadapi penguasa kafir dengan semangat yang membara. Ia meneriakan orasi yang membakar telinga pasukan  kaum muslimin. Dalam waktu sekejap, mereka menjadi orang-orang yang pemberani. Dengan pedang ditangan dan semangat juang yang membara, mereka maju tak gentar kemedan perang. Suara pidato Thariq terus menggemah ditelinga laksana lonceng kemenangan. Dan itulah yang punya andil besar bagi keberhasilan mengalahkan lawan.

Jika Ali bin Abu Thalib RA sedang berpidato, ia mampu memancarkan air mata-air mata pesona yang membuat jiwa para pendengarnya tunduk, yang mampu melawan mereka, dan mampu meluluh lantahkan keangkuhan mereka. Hal itu karena begitu indah dan sangat berkesannya pidato yang disampaikan Ali Kata-katanya sangat fasih.

Ibnu Al-Jauzih adalah seorang ulama yang biasa memberikan nasehat kepada manusia. Pada suatu hari, ia sedang memberikan nasehat disebuah majelis taklim, terjadi hal yang sangat luar biasa. Ia mampu membuat jiwa orang-orang yang berada di ajelis tersebut bergetar. Mereka mendengarkan dengan khusyu’ dan khidmat seolah mereka sedang terkena pengaruh sihir. Mereka semua menangis bercucuran air mata. Sepontan diantara mereka ada yang berteriak menyatakan bertobat. Ada yang menjerit menyesal. Dan bahkan tidak sedikit yang jatuh pingsan.

Ada seorang orator yang kalau sedang menyampaikan orasinya dalam posisi duduk para pengunjungnya dengan penuh khidmat memintanya berdiri diaatas mimbar atau duduk diatas kendaraan. Mereka berdiri berjajar mengelilingi dengan mandangan mata yang hampir tak mau berkedi.

Ada juga  sementara orator yang kalau sedang berbicara mampu membuat mimbar yang ia gunakan bergetar oleh gemah  suaranya. Para pengunjung seolah ada dalam genggamannya.

Dan adapula sementara orator yang nampak begitu dingin dan wibawa laksana air yang tenang dan menghanyutkan. Atau laksana angin yang mampu membuat daun-daun berguguran.

Target utama bagi figur-figur orator seperti itu ialah; menguasai jiwa sebelum raga.

Published inNasehat Khalifah