Skip to content

Mereka Tidak Sama

Mereka Tidak SamaWajah seorang ulama salaf merah padam ketika ia dipuji dan dicium tangannya oleh seorang pengemis. Dengan nada marah ia berkata, “Apakah ada Tuhan selain Allah?” Maksudnya, bahwa yang berhak diagungkan dan dianggap suci hanyalah Allah. Lazimnya, kita merasa senang kalau dipuji, dan merasa benci kalau dikritik.

Empat orang menemui Ibrahim An-Nakha’i seorang ulama yang terkenal zuhud, disebuah masjid. Tetapi Ibrahim berdiri meninggalkan mereka karena ia takut menjadi terkenal. Sementara hati kita biasanya merasa sangat kecewa jika jumlah orang-orang yang menyenangi kita berkurang. Sebaliknya kita merasa sangat senang jika jumlah mereka terus bertambah.

Seorang berkata kepada kepada Ibnu Sirin, seorang tokoh ulama dari generasi tabi’in, “Silahkan anda yang menjadi imam shalat jenazah bagi kami. “Ibnu Sirin menjawab, “Tidak. Aku tidak suka orang-orang menjadi tidak bersatu gara-gara Ibnu Sirin menjadi imam shalat jenazah bagi mereka. “sementara kita biasanya malah saling merebut menjadi imam dan bahkan saling membunuh untuk sebuah jabatan.

Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah yang tekun beribadah dan zuhud, kalau sedang berbicara lalu ada yang mengagumi bicaranya, ia segera berhenti karena khawatir punya sifat ujub (mengagumi diri sendiri). Sementara kita kalau sedang ditunggui oleh banyak orang, kita  akan berbicara panjang lebar dengan suara lantang dan semangat menggebu-nggebu.

Abdullah bin Al-Mubarak seorang ulama yang terkenal wira’i tidak pernah mencatat pikirannya. Ia mengatakan, “Siapa kami ini sehingga harus menulis pikiran kami?” sementara kita sering dipuji oleh banyak orang, sehingga diantara kita ada yang mengatakan, “Aku memang sudah berhasil menulis buku ini, mentahqiq kitab ini, dan lain sebagainya.”

Banyak orang yang tahu tetapi kita ingkari. Mereka memberi nasehat tetapi kita tipu. Dan mereka berlaku ikhlas tetapi kita nodai. Mereka kehendaki Allah semata, sementara kita menghendaki Allah bersama lain-Nya. Kita berlindung kepada Allah jangan sampai kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam keadaan sadar, dan kita mohon ampunan kepada-Nya atas kesalahan-kesalahan yang kita sadari.

Published inNasehat Khalifah