Skip to content

Bagaimana Anda Berbicara Kepada Manusia

Bagaimana Anda Berbicara Kepada ManusiaKita butuh strategi untuk berbicara kepada manusia, dan butuh pengalaman yang luas untuk menarik serta mempengaruhi mereka. Aspek inilah yang menjadi perhatian yang cukup intens bagi yayasan-yayasan, sekolah-sekolah, dan organisasi-organisasi. Sesungguhnya masyarakat itu membutuhkan figur da’i cerdas yang sanggup menyampaikan kalimat-kalimatnya kerelung batin yang paling dalam. Ialah yang sangat membutuhkan pengetahuan tentang cara-cara untuk menembus hati dan jiwa ummat sehingga mereka merasa terkesan dan terpengaruh. Ia harus mempelajari rahasia-rahasia tentang bagaimana cara memikat dan menarik pesona mereka.

Sesungguhnya untuk bisa berbicara yang dapat diterima oleh ummat, seorang harus punya bakat, kemampuan, dan kecakapan yang perima. Ia harus fasih dalam memberikan penjelasan dan membaca situasi serta kondisi yang tepat. Banyak orang bilang dai yang cerdas ialah yang suara, retorika, dan penjelasan-penjelasannya merupakan kenikmatan tersendiri yang dapat dirasakan oleh publik yang mendengarnya.

Figur dai teladan tentu saja adalah Rasulullah Saw. Siapa yang menghendaki penjelasannya, silahkan  simak pidato beliau, kalimat-kaliamat yang beliau sampaikan, dan dan ucapan-ucapan yang beliau kemukakan. Tentu ia kan mendapati penjelasan yang luar biasa dan kefasihan yang sangat prima. Demikian pula para khulafaurrasyidin dan beberapa tokoh salafu shaleh seperti Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mu’awiyah, dan Abdul Malik bin Marwan. Dan juga tokoh-tokoh yang hidup setelah generasi mereka; eperti Abu Ja’far Al-Mansur, Al-Makmun, dan masih banyak lagi. Bagi yang ingin lebih jelass lagi, silahkan baca kitab tentang kiat berbicara dan menulis oleh Muhammad Abu Zahrah atau kitab Khutabah’ Shana’u At-tarikh karya Ahmad Nur, atau kitab Fan Al-Khitabat oleh Dael Kranji, danmasih banyak lagi. Mereka semua memiliki kemampuan menguasai emosi, perasaan, dan jiwa publik.

Kadang ada materi pelajaran yang semestinya sangat indah untuk disampaikan oleh seorang dai, namun tidak tepat untuk sasaran. Tetapi sebaliknya juga ada seorang dai karena sangat piawai dalam menyampaikan penjelasan-penjelasan kepada publik, sehingga mereka bisa menerimanya dengan puas dan terkesan dalam sampai batin (meski materinya tidak begitu menarik). Perbedaannya adalahterletak kepada kemampuan masing-masing.

Mendapatkan keutamaan-keutamaan, dan menghilangkan kenistaan-kenistaan, merupakan seni yang harus diperhatikan oleh para dai.

Published inNasehat Khalifah