Skip to content

Keesaan Sang Khaliqiyah

Keesaan Sang KhaliqiyahSetelah kita membahas masalah keesaan Allah dan keesaan sifat Allah pada artikel sebelumnya kini kita akan membahas selanjutnya masalah keesaan sang pencipta. Perlu semua kita ketahui bahwa derajat ketiga Tauhid berkenaan dengan keesaan Sang Sumber Pencipta (Khaliqiyah). Hal ini bermakna, tidak ada pencipta selain Allah, dan bahwa siapa atau apapun yang mengenakan jubah eksistensi, pasti makhluk-Nya. Al-Qur’an menyebutkan aspek tauhid ini:

 “Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ra’d: 16)

Dan juga Allah berfirman dalam surah al-Mukmin:

“Demikianlah Allah, Tuhan kamu, pencipta segala sesuatu, tidak ada tuhan selain Dia.” (QS. al-Mukmin: 62)

Selain wahyu, nalar juga memberi kesaksian soal keesaan pencipta. Karena, selain Allah adalah ikhwal kemungkinan, karena berlawanan dengan ikhwal kepastian, dan dengan demikian membutuhkan sesuatu selaindarinya, agar diwujudkan menjadi menjadi aktual. Tentu saja kebutuhan eksistensi ini hanya dapat dipenuhi oleh Allah, dan hanya melalui Allah-lah segala aspirasi selanjutnya dari makhluk, segera setelah eksis, dapat terealisasi.

Tidak ada gunanya jika dikatakan, penegasan tentang keesaan Sang pencipta ini tidak menyatakan tiadanya kualitas skunder dalam tatanan eksistensi. Karena, prinsip yang dengannya fenomena yangtak terduga memiliki efek timbal balik satu sama lain itu sendiri berasal dari  otoritas Tuhan. Realitas sebab dan prinsip yang dengannya kausalitas menjadi inheren dalam segenap hal yang eksis keduanya harus dipahami sebagai manifestasi kehendak-Nya. Dialah yang memberikan matahari dan bulan, kualitas panas dan cahaya; jika dia menginginkan Dia dapat menarik kemampuan mereka dalam mempengaruhi fenomena. Beberpa poin ini akan jelas, bahwa Dia sesungguhnya merupakan pencipta Tunggal, tanpa tandingan.

Sebagaimana dijelaskan diatas Al-Qur’an menjelaskan prinsip kausaliatas ini, sebagai contoh:

Allah yang mengirimkan angin lalu angin itu menggerakan awan dan Dia membentangkannya dilangit sebagaimana Dia berkehendak…. (QS. ar-Rum: 48)

Kendati fakta bahwa segala fenomena berhubungan dengan segenap hal yang terlingkupi ke-pencipta-an Tuhan, bukan selanjutnya segenap perbuatan jahat dari makhluk Allahjuga berhubungan dengan-Nya. Benar, setiap fenomena tunggal, sejauh merupakan entitas tak terduga, tidak dapat dikategorikan sebagai eksistensi tanpa dukungan kekuasaan dan dukungan universal Tuhan. Namun, uutk jelasanya harus dinyatakan dalam kontas manusia. Karena manusia dianugrahi ketentuan Tuhan dengan kehendak bebas dan kapasitas  membuat keputusan independen berkenaan dengan segenap perbuatannya. Kualitas perbuatan, bergantung pada keputusannya sendiri. Dari sudut pandang yang agak berbeda, dapat dikatakan bahwa karena Tuhan sesunggunya merupakan penganugerah eksistensi sedemikian, sehingga eksistensi, dalam makna absolut dan universal, berasal dari-Nya dan bergantung pada-Nya kejahatan tidak benar-benar merasuk pada eksistensi. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:

ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ٧

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (QS. as-Sajdah: 7)

Namun, kapasitas membuat keputusan-keputusan rasional, layak bagi manusia itu sendiri, menetukan tingkat yang dengannya perbuatan-perbuatan mansia selaras dengan standar-standar yang dibangun nalar dan hukum Tuhan yang serupa. Marilah kita perhatikan dua perbuatan ; seperti makan dan minum. Sejauh merupakan bagian eksistensi, maka perbuatan ini didasarkan pada realitas Tuhan. Namun, dari sudut pandang lain, termanifestasi dalam bentuk ‘makan dan minum’ kemudian, karena perbuatan-perbuatan bebas manusialah yang mengakibatkan bentuk-bentuk eksistensi kasus ini, maka perbuatan-perbuatan itu harus terlihat berkenaan dengan pelakunya, manusia.

Kedua perbuatan  ini, dalam bentuk dan kualitas khusunya, dalam hal apapun, tidak dapat korelasikan dengan tuhan. Karenanya, Tuhan harus dipahami sebagai penganugraheksistensi, sedangkan manusia merupakan pelaku tindakan dalam eksistensi; pemakan dan peminum sesungguhnya.

Published inDasar Keyakinan