Skip to content

Dewasanya Dajjal dalam Naungan Jibril

Dewasanya Dajjal dalam Naungan JibrilSetelah Dajjal dibawah oleh Malaikat Jibril di pulau tersembunyi dalam artikel sebelumnya yang berjudul pertumbuhan dan perkembangan Dajjal kini kami akan membahas seputar dewasanya Dajjal dalam naungan Jibril. Malaikat Jibril setiap pagi dan sore mendatangi anak laki-laki yang tiap harinya hanya tidur dalam gua. Jibril menyedikan makanan dan minuman tanpa diketahui anak itu hingga usianya gena delapan tahun. Pada usia itulah,anak laki-laki itu mulai membuaka matanya, menegakan tubuhnya dan menggerakan kakinya. Ia mulai berjalan menyusuri pulau terpencil itu. Di pulau yang  tersembunyi itu, ia tidak menemukan apa-apa kecuali tumbuh-tumbuhan yang hidup liar.

Hingga suatu ketika ia dikejutkan oleh makhluk besar, berbulu tebal bermata besar seperti api. Makhluk itu berkata, “Engkau adalah anak yang diselamatkan oleh Allah Swt dari gempa dahsyat yang melanda Negeri Samariah. Atas perintah-Nya, Malaikat Jibril membawamu kesini dan menyediakan makan dan minummu. Janganlah kamu menjadi manusia yang mengkhianati janjimu kepada Allah Swt. Engkau harus menjadi seorang yang beriman dan patuh kepada Allah Swt yang menciptakan alam semesta ini. Dialah Tuhan yang Maha Esa.”

Kemudian makhluk itu membawanya menuju kesebuah tempat dimana di tempat itu terdapat beberapa batu bertulis. Pada batu yang berjumlah tujuh buah itu bertulis bahasa Arab dengan jelas. Binatang itu pun mengajarinya membaca huruf demi huruf. Pada batu-batu tersebut tertulis kalimat syahadat, peringatan untuk tidak mengingkari janji yang telah diucapakkan, perintah untuk menjadi manusia yang beriman kepada Allah, kitab Allah, dan juga Muhammad Saw. Sang Nabi akhir zaman. Lalu anak laki-laki itu berjalan menuju sisi batu besar yang ketujuh, ia mendapati sebuah batu yang indah warnanya dan juga sebuah benda seperti tinta yang digunakan Jibril untuk menulis. Pada batu tersebut tertulis peringata Allah:

….. وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولٗا ١٥

“…. Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’: 15)

Lalu makhluk itu menjelaskan kepadanya akan maksud arti dan tujuan dari kalimat tersebut bahwa ia diberi kebebasan untuk memilih jalan yang akann ditempuh. Apabila ia memilih kebaikan, maka ia akan menjadi seorang raja yang adil dan apabila ia memilih jalan keburukan maka ia akan menjadi orang yang mengaku sebagai Tuhan. Selanjutya anak laki-laki itu bertaya akan jati diri makhluk besar, berbulu lebat dan bermata besar itu. Makhluk itupun menjawab bahwa ia adalah binatang yang diciptakan untuk menemaninya di pulau ini. Binatang itu juga menjelaskan bahwa ialah satu-satunya orang  yang selamat dari suatu daerah yang hancur dan ia sendiri diperintahkan oleh Jibril untuk menemaninya.

Binatang itu akan berbicara ketika Allah Swt memberi perintah untuk berbicara dengan bahasa yang fasih kepada anak laki-laki itu dan sesudahnya, ia akan membisu dan bersuara layaknya binatang biasa. Binatang itu disebut Al-Jassasah. Ialah yang menjadi perantara dan menyampai kabar dari Jibril, sang Malaikat agung, kepada anak laki-laki itu. Jibril tidak bisa menampakan diri kepada anak laki-laki itu karena kondisinya yang tidak memungkinkan dan begitu juga sebaliknya, anak itu tidak bisa melihat wujud Jibril karena segala kekurangan yang dimilikinya. Dengan cara seperti itulah, jibril mengasuh anak yang kelak akan menjadi bencana terbesar dalam sejarah manusia itu.

Melalui perantara binatang al-Jassasah, sang malaikat menjelaskan akan pertanggungjawaban yang kelak akan diminta atas setiap perbuatan yang dilakukan dengan syarat telah datangnya sebuah peringatan atau sebuah utusan yang menyuruh untuk beriman kepada Allah Swt. Tanpa itu semua, maka tidak ada taklif bagi orang yang tidak mengetahui kesalahan yang dilakukannya. Jibril telah memperingatkan anak laki-laki itu agar tidak ingkar janji dan untuk beriman kepada Allah Swt dan ketika dikemudian hari, anak laki-laki itu tumbuh dewasa menjadi seorang yang menyekutukan Allah, maka azab dan siksa wajib atasnya.

مَّنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهۡتَدِي لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولٗا ١٥

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’: 15)

Demikian apa yang bisa sang khalifah bisa berikan pada artkel kali ini jangan lewatkan untuk membaca artikel sebelumnya dengan judul Pertumbuhan dan Perkembangan Dajjal

Published inDajjal