Skip to content

Hukum Meliahat Mushaf dalam Pelaksanaan Shalat Fardhu

Hukum Meliahat Mushaf dalam pelaksanaan Shalat FardhuKewajiban kita dalam hidup ini adalah melaksanakan semua apa yang diperintahkan oleh Allah Swt dan paling terpenting ialah pelaksanaan shalat wajib berkenaan dengan shalat wajib ini tentang melihat mushaf dalam pelaksanaannya ialah banyak pandangan dikalangan para ulama, secara global setidaknya ada tiga pandangan ulama yang berbeda. yang pertama membolehkan, mengharamkan dan ada juga memakruhkan.

Pertama: Boleh shalat sambil memegang dan membaca Al-Quran dari mushaf, pendapat ini adalah pendapat Jumhur Ulama (Mayoritas Ulama). Baik saat menjadi imam atau pun sebagai makmum, dalam shalat fardhu atau  pun shalat sunnah, orang yang sudah hafal atau pun belum hafal Al-Quran.

Diantara dalil mereka adalah Hadits Ummil Mukminin Aisyah RA bahwa dia pernah diimami oleh budaknya yang bernama Dzakwan dan dia membaca dari mushaf. (HR. Bukhari)

Imam Zuhri pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang membaca (saat shalat) di bulan Ramadhan dengan mushaf.  Beliau menjawab: “Yang kami pilih adalah mereka membacanya dengan mushaf”.

Menurut pendapat ini membaca Al-Quran adalah ibadah maka melihatnya pun juga ibadah. Menggambungkan ibadah kepada ibadah lainnya tidak bisa menimbulkan larangan bahkan akan menghasilkan pahala di mana di dalam ada tambahan dalam beramal berupa melihat mushaf.

Kedua: Madzhab Hanafiyah dan Zhahiriyah berpendapat bahwa tidak boleh shalat sambil memegang dan membaca Al-Quran dari mushaf, ketika menjadi imam atau shalat sendirian, membacanya sedikit atau banyak. Diantara alasan pendapat ini adalah saat orang membawa mushaf, melihatnya membolak-baliknya akan merusak shalat dengan banyaknya gerakan selain gerakan shalat.

Jika anda lebih cenderung kapada pendapat pertama yang membolehkan memegang mushaf saat shalat, maka hendaknya harus diperhatikan adalah jangan sampai benyak gerakan di dalam shalat yang tidak perlu. Juga anda bisa menggunakan mushaf yang bisa anda masukan di saku baju anda.

Ketiga: Yang Memakruhkan ialah Asy-Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman Murid Al-Imam Al-Albani belua mengatakan “Perbuatan ini minimalnya dihukumi makruh karena menyelisihi petunjuk/perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian juga para shahabatnya”.

Tentu ada perbedaan antara orang yang membaca dari dadanya (hafalannya) yang dapat memberikan pengaruh yang baik berupa metode, cara dan contoh terhadap mereka yang menghafal qur’an, dibandingkan dengan yang membacanya melalui mushaf, yang seperti ini tentu tidak bisa ditiru atau dicontoh. Padahal manusia saat ini sangat membutuhkan metode, contoh dan akhlak para ulama seperti butuhnya meraka terhadap ilmu para ulama.

Ditambah lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya (dan paling banyak hafalannya).” Sehingga sholat dengan membaca mushaf tentunya akan menjadikan hadits ini tanpa makna. Setiap manusia bisa membaca qira’at melalui mushaf, namun demikian para ulama telah sepakat/ijma’ bahwa wajib hukumnya menghafal Al-Fatihah. Qira’at yang dibaca melalui mushaf tentu akan menjadikan ijma’ ulama ini juga tidak ada artinya sama sekali.

Ada banyak hal yang menjadi peringatan berkenaan dengan qira’at melalui mushaf ini, diantaranya:

Orang akan merasa puas/bangga dengan apa yang tidak dimilikinya, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang merasa puas/bangga dengan apa yang tidak dimilikinya ibarat orang yang mengenakan pakaian kedustaan.”

Manusia yang bermakmum di belakang Imam yang seperti ini tentu akan beranggapan, “Sungguh hebat imam ini, hafalannya banyak, mutqin (kuat hafalnnya dan tidak ada salahnya) serta benar bacaannya,” sehingga dia akan merasa puas/bangga dengan apa yang tidak dimilikinya.

Dan juga dalam perbuatan seperti ini tentu dia akan disibukkan dengan banyak gerakan diluar gerakan sholat yaitu membuka-buka halaman mushaf atau semislanya. Padahal asal dalam solat itu adalah tenang dan tidak banyak bergerak sebagaimana tertera dalam hadits Ubadah di dalam Shahih Muslim; “Tenanglah dalam sholat kalian.”

Hal ini juga bertentangan dengan petunjuk shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu bahwa orang yang sholat diperintahkan untuk mengarahkan pandangannya ke tempat sujud. Sehingga dengan demikian pada asalnya setiap orang diperintahkan untuk membaca qira’at dari hafalannya.

Hal lain yang menjadi catatan dan peringatan juga adalah bahwa para imam dan kaum muslimin akan menjadi kurang bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menghafalkan Al-Qur’an. Juga tangan kanan dan kiri akan bergantian posisi (karena memegang mushaf).

Akan tetapi jika memang kondisinya mendesak (idhtirar) seperti misalnya seorang wanita yang tinggal di rumahnya dan dia tidak hafal al-qur’an namun kemudian ingin melaksanakan sholat gerhana (kusuf dan khusuf) dan ingin memperpanjang sholatnya, maka dia boleh membaca qira’atnya melalui mushaf. Telah tsabit dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau memiliki maula yang mengimami beliau qiyam ramadhan dengan membaca mushaf. Dalam kondisi ini maka boleh hukumnya karena dharurah.

Sedangkan dalam pelaksanaan shalat sunnah tidak mengapa berdasakan dari hadits yang shahih Ibnu Abi Daud meriwayatkan dalam Al-Mashahif (193-194) dari jalur Jarir bin Hazim dia berkata, “Saya pernah melihat Ibnu Sirin sedang mengerjakan shalat sambil duduk bersila, sementara mushaf berada di sampingnya. Jika beliau ragu-ragu akan suatu ayat, beliau melihat ke dalamnya.”

Dia meriwayatkannya dari jalur yang lain dari Ma’mar dari Ayyub dari Ibnu Sirin:

أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَالْمُصْحَفِ إِلَى جَنْبِهِ، فَإِذَا تَرَدَّدَ نَظَرَ فِي الْمُصْحَفِ

“Bahwa beliau pernah mengerjakan shalat sementara mushaf berada di sampingnya. Jika beliau ragu-ragu akan suatu ayat, beliau melihat ke dalamnya.”

Published inAl-Quran dan Hadits