Skip to content

Perkawinan Poliandri dalam Syariat Islam

Perkawinan poliandri dalam Syariat IslamPada pembahasan sebelumnya sang khalifah telah membahas seputar perkawinan monogami dalam pandangan islam dan kali ini kita akan membahas seputar perkawinan poliandri dalam syariat islam.  Poliandri adalah perkawinan antara seorang perempaun lebih dari seorang laki-laki dalam waktu yang sama. Sejarah pernah mencatat bentuk ikatan perkwinan poliandri, yang biasanya dilakukan oleh wanita-wanita perkasa yan gmenjadi pemimpin suatu komunitass. Ikatan poliandri ini biasanya diwujudkan dalam bentuk perbudakan dimana beberapa orang lelaki harus melayani apa yang diinginkan oleh sang ratu.

Mengenai bentuk ikatan perkawinan poliandri ini, hukum islam dengan tegas melarang bentuk perkawinan ini. Sebagiamana firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 24:

۞وَٱلۡمُحۡصَنَٰتُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ……٢٤

 “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami,……..” (QS. An-Nisa: 24)

Hikmah utama dilarangnya perkawinan poliandri adalah untuk menjaga kemurnian keturunan, jangan sampai tercampur aduk, dan kepastian hukum status seorang anak. Karena anak sejak dilahirkan bahkan dalam keadaan-keadaan tertentu walaupun masih dalam kandungan, telah berkedudukan sebagai pembawa hak, sehingga perlu mendapat perlindungan dan kepastian hukum.

Menurut hukum waris islam, seorang anak yang masih ada dalam kandungan yang kemudian lahir dalam keadaan hidup berhak mandapat bagian penuh, apabila ayahnya meninggal dunia biarpun dia masih dalam kandungan. Dengan begitu seorang perempuan yang sudah terkait nikah dengan seorang laki-laki sebagai suaminya tidak mungkin, dalam saat yang sama, terkait lagi dengan laki-laki lain.

Karena aturan demikian ini jelas mempunyai makna bahwa kepastian garis nasib dengan laki-laki siapa anak yang lahir dari perempuan itu berbapak mudah ditentukan. Sebab dalam kenyataan bahwa perempuan adalah tempat seseorang anak dikandung kemudian dilahirkan. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 223:

نِسَآؤُكُمۡ حَرۡثٞ لَّكُمۡ فَأۡتُواْ حَرۡثَكُمۡ أَنَّىٰ شِئۡتُمۡۖ وَقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّكُم مُّلَٰقُوهُۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٢٣

“Istri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu…… (QS. Al-Baqarah: 223)

Begitupun sabda Rasulullah Saw:

Anak itu dimiliki orang yang memiliki tempat tidur (dimana anak itu dilahirkan).

Sementara itu menurut perintah dari surah An-Nur ayat 32 ditentukan pula agar dalam menikahkan seseorang supaya mendapat pasangan yang tidak bersuami ataupun beristri:

وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٣٢

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian (gadis, jejaka, janda/duda) diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. An-Nur: 32)

Dalam undang-undang perkawinan larangan perkawinan poliandri ini ditentukan dalam pasal 3 ayat 1, yang menentukan bahwa pada asasnya seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Larangan ini bersifat mutlak, karena tidak ada alasan-alasan lain yang ditentukan dalam undang-undang perkawinan ini yang membolehkan seorang wanita unutk dapat kawin dengan lebih dari seorang pria.

Jadi dengan paparan tersebut perikatan perkawinan bagi seorang wanita adalah monogami bukan poliandri. Dengan lain kata perkawinan poliandri dalam islam adalah haram hukumnya (dilarang).

Published inPernikahan dan Keluarga