Skip to content

Pengaruh Salafiyah di Indonesia

Pengaruh Salafiyah di IndonesiaMadrasah Salafiyah sendiri terdapat diberbagai negara muslim antara lain di Arab Saudi, Yaman, Yordania, Syria, negara-negara jazirah Arab, Mesir, Pakistan, India, Asia Tengah dan lainnya. Tiga madrasah yang sangat dominan saat ini, ialah Salafiyah di Arab Saudi,  Salafiyah di Yaman dan Salafiyah di Yordania- Syria (Syam). Masing-masing madrasah memiliki ulama-ulama, majelis-majelis, lembaga pendidikan, media, serta karya-karya buku. Asal negaranya bisa  berbeda-beda, tetapi poros ajarannya sama yaitu tauhid dan ittiba’ sunnah (pengikut sunnah Nabi).

Paham salafiyah  yang masuk ke Indonesia bermacam-macam warnanya. Warna yang paling asli ialah dakwah imam Muhammad bin Abdul Wahab  Rahimahumullah yang dibawah oleh ulama-ulama di Sumatera Barat pada awal abad ke-19. Inilah salafiyah pertama di  Indonesia, dikenal sebagai kaum Padri,  dijaman kolonel berperang melawan kaum adat dan belanda .

Menurut informasi, kaum Padri masih eksis sampai saat ini, meskipun jumlah mereka tidak besar, dan mereka tidak memisahkan diri dari adat Minangkabau secara umum. (wallahu a’lam). Paham Salafiyah juga berpegaruh secara relatif terhadap orgaisasi-organisasi Islam di Indonesia  misalnya Muhammadiyah, Syarikat Islam, Persatuann Islam, (persis), juga Al-Isyad, Ahmad Dahlan, A. Hasan, Munawar Cholil dan lain-lain dikenal sebagai tokoh-tokoh gerakan purifikasi di Indonesia yang anti syirik dan bid’ah.

Di era moderen, Salafiyah masuk ke Indonesia melalui beberpa jalur, antara lain mellui buku-buku, media, proses pendidikan, kerjasama kelembagaan, dan jalur gerakan dakwah Salafiyah. Jalur buku bisa berupa buku asli (bahasa Arab) yang dibaca oleh muslim Indonesi, juga berupa buku terjemahan dari karya ulama-ulama Salafiyah di Timur Tengah. Jalur media melalui media, melaui majalah, buletin, internet, kaset-kaset, VCD dan  lain-lain. Jalur pendidikan bisa berupa lembaga pendidikan islam yang didirikan di Indonesia atau dengan mengirim pemuda-pemuda Indonesia untuk belajar di pusat-pusat pendidikan Islam di Timur Tengah. Kerja sama kelembagaan bisa berupa bantuan buku-buku dan fasilitass belajar, pembangunnan perpustakaan, bantuan bagunan masjid, bantuan bencana alam, pelatihan dan lain sebagainya. Dan jalur gerakan dakwah Salafiyah  bisa berupa pendidikan kader  da’i, pembukaan majelis-majelis taklim, pembangunan lembaga-lembaga ilmiyah dan sosial dan lain-lain.

Adanya keragaman jalur, keragaman pihak-pihak  yang pengembang amanat dakwah Salafiyah, keragaman lembaga-lembaga dan kebijakan mereka, akhirnya memunculkan keragaman wajah Salafiyah di Indonesia. Sebagaimana warna-warna itu bisa disebutkan sebagaimana di bawah ini:

  1. Sikap ilmiyah murni, yaitu mengkaji setiap persoalan berdasarkan landasan Al-qur’an, hadits-hadits shahih, serta metode yang lurus sebagaimana yang dipegang oleh para ulama Ahlus Sunnah sepajang sejarahnya. Inilah sumber dan metode asli dakwah Salafiyah.
  2. Membangun jaringan majelis taklim yang menginduk kemadrasah Salafiyah tertentu di Timur Tengah. Pelajar-pelajar dari Indonesia menuntut ilmu di madrasah Salafiya itu, kemudian mereka pulang ke Indonesia untuk menyebarkan ilmu dan metode dakwah yang telah mereka pelajari di madrasah tempat mereka belajar.
  3. Bersikap keras dalam mengingkari ahli bid’ah dan kelompok menyimpang. Sikap keras itu kadang ditunjukan dengan membuka masam, tidak mau menjawab salam, bersikap menjauhi, mencela, membuka aib-aib, menghina, hingga memboikat.
  4. Mengambil khasanah ilmu-ilmu Salafiyah, namun juga menerapkan sistem kejamahan (organisasi) seperti yang diterpkan dikalangan jamaah-jamaah dakwah islam pada umumnya.
  5. Mengambil bab-bab tertentu dari ilmu Salafiyah dan meninggalkan bab-bab yang lain. Adakalanya mereka anti terhadap bab-bab tertentu yang tidak memuaskan akal, kebiasaan, dan kepetingannya. Kelompok ini biasanya bersemangat tinggi dalam bab-bab yang mereka pilih.
  6. Mengambil khazanah ilmu Salafiyah untuk bab-bab yang bersifat dasar (elementer) lalu meletakan diatas dasar-dasar itu pemikiran non Salafiyah, seperti doktrin politik, kekerasan, organisasi dan lain-lain.
  7. Mengambil sebagian ilmu-ilmu Salafiyah, lalu meramunya dengan ilmu-ilmu dari sumber lain, sehingga menghasilkan paduan multi warna. Dengan kata lain, menghasilkan wajah baru sebagai buah proses kompilasi. Ada yang menyeutnya dengan istilah thariqul jam’i (metode kompromis).
  8. Berkiprah dalam bidang-bidang teknis, misalnya penerbitan, media, pendidikan, rumah sakit, lembaga sosial dan lain-lain. Tanpa mengikatkan diri kepada suatu organisasi Islam tertentu (baik organisasi formal atau non formal).
  9. Berkarya dalam dakwah Salafiyah secara independen dengan tidak mengikatkan diri kepada suatu organisasi, jama’ah, jaringan majelis taklim, lembaga, madrasah dan lain-lain. Baik didalam atau diluar negeri. Mereka menyebarkan ilmu-ilmu Salafiyah secara mandiri, lokal, dan menyusuaikan metode dakwah dengn situasi lingkungan. Secara popularitas mereka kurang dikenal sebab cenderung terpisah-pisah, tetapi secara dakwah mereka eksis.
  10. Mengambil hikmah ilmu Salafiyah secara individu sesuai kebutuhan, keinginan, dan kepentingan masing-massing.

 Seluruh warna diatas ada di Indonesia, bahkan mungkin bagi para peneliti yang serius meneliti topik ini, mereka bisa menemukan warna-warna yang lebih banyak. Satu prosesnya, yaitu madrasah Salafiyah tetapi banyak cabangnya. Seperti sebatang pohon, ada batang dan ada cabang-cabangnya. Kadang suatu cabang dekat dengan induknya, tetapi kadang ia jauh sama sekali, sehingga dikira sebagai cabang tanaman lain. Malah ada pula cabang yan g kemudian sangat memusuhi induknya dan ingin mematikannya. Walillah nas’alulm ‘afiah.

Published inSalafiyah