Skip to content

Hukum Penghianatan Kepada Rasulullah

Hukum Penghianatan Kepada RasulullahDalam kehidupan manusia pastinya ada sebuah kepercayaan dalam diri seseorang tetang adanya Tuhan pencipta segala sesuatu di Dunia ini memiliki banyak agama yaitu agama ardi atau agama bumi agama yang diciptakan oleh manusia itu sendiri tetapi cuman satu agama yang patutut anda yakini kepecayaannya datangnya dari Allah Swt yaitu agama islam agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Kita lihat sekarang-sekarang ini kenapa semakin banyak orang yang menghujat bahwa agama yang di bawah oleh Muhammad itu ialah agama yang bohong adapun penghujatan melalui buku provokatif yang menghujat Islam, dan juga melalui film nonprofit “Innocence of Muslim” karya seorang yahudi Becille, salah satu koran di Prancis juga tidak mau kalah dengan menampilkan beberapa karikatur Nabi Muhammad yang menampilkan pelecehan yang luar biasa. Ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa waktu lalu Geert Wilders dari Belanda membuat film yang menyatakan bahwa Islam adalah ideologi setan dan biang teroris.

Tidak sampai disini bahwakan merek terang-terangan megatakan bahwa Allah dan Nabi Muhammad sebagai Pembohong; ibadah haji adalah simbol kemesuman Islam; Hajar Aswad adalah simbol dari (maaf) kemaluan wanita; sedangkan Jamarat adalah simbol dari (maaf) kemaluan laki-laki; dan masih banyak lagi.

Allah Swt berfirman dalam kitab suci-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابٗا مُّهِينٗا ٥٧

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)

Sababu’n Nuzul (Sebab Turun)nya Ayat

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang menghina Nabi SAW ketika menikah dengan Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab RA. Sementara Adh Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya yang menghina siti Aisyah RA. Maka, Nabi SAW langsung menyampaikan khutbah seraya bersabda. “Siapa yang memaklumiku dari seseorang yang menyakitiku dan. menghimpun di rumahnya orang-orang yang menghinaku”, lalu turunlah ayat tersebut.

Permasalahan

Mencela, mengolok-olok, mencaci-maki, ataupun merendahkan martabat Rasulullah saw., dalam terminologi fikih Islam dikenal dengan istilah sabba ar-Rasûl atau syatama ar-Rasûl. Untuk mengetahui lebih lanjut kata-kata atau kalimat-kalimat seperti apa yang terkategori sabba ar-Rasûl, ada baiknya kita menyimak deskripsi tentang sabba ar-Rasul itu.

Ibn Taimiyah, dalam kitabnya, ash-Shârim al-Maslûl ‘alâ Syâtimi ar-Rasûl, menerangkan tentang batasan orang-orang yang menghujat Nabi saw., yaitu: katat-kata (lafadz) yang bertujuan untuk menyalahkan, merendahkan martabatnya, melaknat, menjelek-jelekkan, menuduh Rasulullah saw. tidak adil, meremehkan, serta mengolok-olok Rasulullah saw.

Para Sahabat dan generasi muslim terdahulu merasakan marah yang luar biasa ketika Nabi saw. dihina dan aqidah Islam dilecehkan. Berikut adalah dua diantara banyak riwayat yang menceritakan tentang hal itu.

1. Ibnu Abbas telah meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, bahwa ada seorang laki-laki buta yang istrinya senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Lelaki itu berusaha melarang dan memperingatkan agar istrinya itu tidak melakukannya. Sampai pada suatu malam (seperti biasanya) istrinya itu mulai lagi mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (Merasa tidak tahan lagi), lelaki itu lalu mengambil kapak kemudian dia tebaskan ke perut istrinya dan ia hunjamkan dalam-dalam sampai istrinya itu mati. Keesokan harinya, turun pemberitahuan dari Allah swt kepada Rasulullah saw yang menjelaskan kejadian tersebut.

Lantas , hari itu juga beliau saw. mengumpulkan kaum muslimin dan bersabda:

“Dengan menyebut asma Allah, aku minta orang yang melakukannya, yang sesungguhnya tindakan itu adalah hakku; mohon ia berdiri.”

Kemudian (kulihat) lelaki buta itu berdiri dan berjalan dengan meraba-raba sampai ia turun di hadapan Rasulullah saw, kemudian ia duduk seraya berkata:

“Akulah suami yang melakukan hal tersebut ya Rasulullah saw. Kulakukan hal tersebut karena ia senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan dirimu. Aku telah berusaha melarang dan selalu mengingatkannya, tetapi ia tetap melakukannya. Dari wanita itu, aku mendapatkan dua orang anak (yang cantik) seperti mutiara. Istriku itu sayang padaku. Tetapi kemarin ketika ia (kembali) mencela dan menjelek-jelekkan dirimu, lantas aku mengambil kapak, kemudian menebaskannya ke perut istriku dan menghujamkan kuat-kuat ke perut istriku dan menghujamkan kuat-kuat sampai ia mati. Kemudian Rasululah saw. bersabda:

“Saksikanlah bahwa darahnya (wanita itu) halal” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i)

2. Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. yang berbunyi:

“Bahwa ada seorang wanita yahudi yang sering mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (oleh karena perbuatannya itu), maka perempuan itu telah dicekik sampai mati oleh seorang laki-laki. Ternyata Rasulullah saw. menghalalkan darahnya”. (HR Abu Daud)

Mereka marah atas dasar keimanan dan kecintaan mereka terhadap Nabi saw. Hal yang wajar dan menjadi kewajiban bagi kita untuk melindungi kehormatan dan kemuliaan agama Allah serta orang yang membawa risalahnya ini. Justru sesuatu yang bisa dikatakan, konyol dan keterlaluan, apabila ada seorang muslim nyantai aja ketika Rasulnya dihina sedemikian rupa.

Tentu saja orang kalau saudara atau temen kita aja dihina dan dilecehkan, kita bisa langsung marah ngamuk-ngamuk. Ini Rasul loh, orang yang dimuliakan dan Kekasih Allah SWT, dihinakan di depan mata kita?

Published inHukum Islam