Skip to content

Permulaan Timbulnya Bencana Bagian II

Permulaan Timbulnya Bencana Bagian IIIni adalah tulisan dari lanjutan Permulaan Timbulnya Bencana Bagian I dalam pembahasan sebelumya sang khalifah telah membahas bahwa pemuda yang sering ditemui oleh al-Jassasah sudah mulai ragu. Di suatu malam, perubahan besar terjadi. Perubahan yang akan membawa pemuda itu dalam pengalamannya yang membentang luas diseluruh jagat raya. Di malam itu ketika ia terjaga dari tidur lelapnya, ia pergi keluar dari gua uutk mencari kayu bakar guna menghangatkan tubuhnya yang tersapu angin malam. Ia berjalan menuju pantai dan membuat perapian. Hal ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut.

Hingga malam ketiga, matanya menuju pada laut lepas. Ia melihat sebuah benda besar mendekat dan akhirnya berlabuh di pulau tempatnya berada. Dari benda itu, lima orang laki-laki keluar dan berdiri didepannya. Dengan penuh kebingungan ia memperhatikan kelima orang yang memang baru pertama kali ditemuinya. Lalu salah satu dari kelima orang tersebut mengajaknya berbicara dengan bahasa arab, satu-satunya bahasa yang diketahuinya. Kelima orang itu ialah penduduk Yaman yang berjarak sekitar empat ribu kilometer dari pulau terpencil dimana sang raja pendusta tumbuh dewasa.

Pemuda itu pun berbicara panjang lebar mengenai dirinya dan juga al-Jassasah, binatang yang menemuinya. Namun kelima orang tersebut tidak ada yang mempercayainya, sementara sang pemuda itu tidak punya bukti guna membenaarkan pertanyaannya. Salah satu dari kelima orang itu menganggap bahwa orang itu adalah orang gila, atau orang yang kerasukan setan. Sedangkan yang lain menganggap bahwa pemuda itu ialah manusia ajaib. Terbukti bahwa ia dapat bertahan hidup sendirian di pulau terpencil. Akhirnya mereka bersepakat untuk membawa pemuda itu pergi jauh dari negeri Yaman yang makmur. Hal itu lakukan dengan harapan ia tidak akan membawa kesialan pada mereka dan juga pada negeri mereka.

Dalam perjalan di malam gulita itu, kapal yang ditumpangi mereka dihatam badai besar yang hampir menenggelamkan mereka. Terlebih gelombang samudra bergulung-gulung mengombang ambingkan kapal mereka bagaikan secarik kertas ditengah lautan yang tidak ada day upaya apa pun melawan keganasannya. Sungguh orang-orang yang tidak pernah mengalami kejadian seperti itu sepanjang hidupnya dalam mengarungi lautan. Mereka tidak mengetahui bahwa itulah kemurkaan Allah Swt karena mereka telah membawa keluar manusai yang akan menghabiskan usia hidupnya tiada lain kecuali untuk membinasakan bangsanya sendiri.

Setelah sampai daratan dan selamat dari amukan badai yang mengacam, mereka membawa pemuda itu ketengah masyarakat sehingga ia pun belajar mengenai banyak hal. Dengan anugarah kecerdasan yang diberikan oleh Allah Swt, pemuda itu dengan mudahnya menyerap berbagai ilmu pengetahuan yang dipelajari. Tidak sedikit orang yang kagum akan kelebihannya itu. Bahkan seorang filosof Yaman menyatakan bahwa dengan segala kecerdasan, kekuatan dan keistimewaan yang dimilikinya, pemuda itu akan menjadi seorang raja yang adil, namun bisa juga menjadi raja yang sangat zalim.

Setelah beberapa tahun berlalu, dihatinya terbesit hasrat unutk mengunjungi keneggr orang tuanya. Namun sebelum itu ia ingin berkunjung ke pulai terpencil yang di diaminya hingga masa dewasa. Dengan membawa kapal bersama para nelayan, ia menuju pulau tersebut. Dalam jarak tertentu, ia turun menggunkana perahu kecil dan pergi kepulau itu sendirian. Sesampainya di pulau binatang al-Jassasah tengah setia menunggunya. Dengan sorot mata ang tajam, bintang itu memperhatikan pemuda yang menjadi pertanda kehidupan kematiannya. Beberapa saat kemudian, binatang itu berlari kencang masuk kedalam hutam tanpa mengucap sepatah kata pun. Sementara itu, tiada yang ada dibenak pemuda itu kecuali berlari menuju gua tempatnya dulu tinggal unutk mengambil batu warna-warna dan beberapa tanah yang dipergunakan oleh jibril unutk menulis pada tujuh buah batu besar itu.

Setelah itu, ia kembali menuju perahunya dan mewujudkan hasyaratnya untuk kembali ketanah kelahiran nenek moyangnya, Palestina. Sampai di negeri itu, ia lalu berjalan menuju negeri tempatnya dilahirkan, Samirah. Di Negeri itu, ia ingin mengungkap kebenaran kisah-kisah misteri yang pernah diungkap binatang al-jassasah mengenai jati dirinya, keluarganya dan bencana yang meluluh-lantahkan negerinya. Maka usianya telah melebihi seratus tahun, namun fisiknya tidak menampakan hal demikian. Ia msih tetap layaknya pemuda gagah yang tidak lebih usia tiga puluh tahun. Ia merupakan bagian dari kelebihan yang dianugrahkan Allah Swt. Keadanya, namun ia mengingkari dan hanya menganggap bahwa itu merupakan kehebatan dirinya, bukan karena lainnya.

…….. وَٱلۡحِكۡمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ وَكَانَ فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكَ عَظِيمٗا ١١٣

“….. Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An-Nisa’ :113)

Ia bertanya kepada penduduk setempat dan jawaban yang diperoleh hanyalah bahwa negeri itu telah mengalami bencana beberapa ratus tahun yang silam. Namun kisah perihal bayi lelaki yang diculik oleh malaikat tidak ada yang mengetahuinya. Hingga akhirnya ada orang tua yag mengabarkan bahwa ia pernah mendengar cerita dari orang-orang tua lainnya bahwa dahulu kala ada seorang bayi laki-laki yang mendapat keberkahan dari para dewa. Namun hakim setempat mengambilnya dari ayahnya dan laki-laki itu pun tewas diistana ketika bencana dahsyat itu terjadi.

Ia bertanya kepada orang-orang itu, “apakah yang kalian sembah di Samirah?” mereka menjawab, “Sapi dan patung api merupakan Tuhan para dewa. Bukankah sapi telah memberi kemamfaatan bagi kita semua dengan susu dan dagingnya.” Begitulah jawaban orang-orang yang kufur nikmat Allah Swt. Mereka adalah orang-orang yang lupa bahwa Allah Swt befirman:

إِنَّمَآ إِلَٰهُكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ وَسِعَ كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمٗا ٩٨

“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”. (QS. At-Thaha: 98)

Mendengar kisah itu, pemuda yang berusia lannjut itu mulai meyakini kebenaran binatang al-Jassasah perihal asal-usulnya. Namun sekali lagi. Ia tidak mempercayai dan meyakini akan berita lain dan perintahnya untuk beriman kepada Allah Swt ia memandang bahwa ia tidak akan menyembah sesuatu yang tidak dapat didengar. Oleh karena itu, sebagiamana penduduk Samirah yang menyembah patung sapi, maka ia berkeyakinan bahwa ia pun pantas menjadi tuhan yang pantas disebah. Karena segala pengetahuan dankecerdasan yang dimilikinya, ia pantas mendapat hal yang demikian. Akhirnya ia pun mengkultuskan dirinya sebagai Tuhan atau anak Tuhan.

Published inDajjal