Skip to content

Rasulullah Adalah Sebagai Contoh Manusia Teladan

Rasulullah Adalah Sebagai Contoh Manusia TeladanRasulullah adalah manusia yang Allah jadikan sebagai nabi terakhir yang membawa risalah agama Allah untuk seluruh manusia di muka bumi. Semua apa yang dilakukan oleh nabi bisa kita ikuti baik itu sunnah qauliyah, sunnah fi’liyah, sunnah taqririyah dan sunnah hammiyah karena Rasulullah adalah sebaik-baik manusia yang bisa kita jadikan contoh teladan dalam kehidupan kita.

Untuk lebih jelasnya mari kita coba melirik firman Allah dalam surah al-ahzab ayat 21:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat tersebut jelas-jelas menyuruh kita semua untuk menjadikan beliau sebagai suri teladan satu-satunya bukan orang lain. Bukan para artis, bukan para penyanyi, bukan siapa-siapa tapi Nabi kita yang paling agung Rasulullah Saw. Jika kita umat yang mengaku mencintainya maka tanpa disuruhpun kita pasti akan melaksanakan sunnahnya dengan ikhlas , dengan niat yang tulus dan tanpa paksaan. Banyak sekali saat ini umat muslim yang lain di mulut lain di hati, mengaku cinta nabi hanya di mulut saja. Sedangkan pada kenyataannya kita seringkali melupakan sunnah sunnahnya.

Ketika Allah Swt mengutus Rasul-Nya, maka bersatu suku-suku kaum yang telah berpecah belah, lenyap permusuhan antara kabilah dan kelompok serta suku kaum, dan ditetapkan batasan-batasan dan hukum-hukum dalam berperang, meletakkan dasar-dasar akhlak, menyempurnakan nilai-nilai kemuliaannya sehingga terbentuk darinya umat yang dibangun oleh dasar-dasar kebebasan, menegakkan kebenaran, keadilan dan persamaan antara sesama manusia, tanpa perbezaan warna, jantina, kelas atau tingkatan.

Tidak akan tegak suatu umat kecuali kerana kebaikan yang dilakukan pada masa awal dan akhirnya, sebagaimana tidak akan berdiri suatu umat kecuali dengan meneladani Rasulullah saw.

Oleh kerana itu, umat Islam harus mempelajari sirah Nabi saw, sehingga mereka dapat menerapkan nilai-nilainya dan pelajarannya dalam diri mereka dan membuat mereka menjadi ikutan bagi manusia dalam istiqamah dan kebaikan sejarah hidup mereka, lurus jalan hidupnya melalui dakwah mereka dalam melakukan reformasi.

Sehingga itu semua; Nabi saw kembali menjadi cahaya yang terang benderang dan mengusir kegelapan kehidupan mereka, serta memberikan hawa sejuk dan kehangatan ke dalam hati, fikiran dan perilaku.

Sebagaimana -dengan itu pula- masyarakat Islam akan dapat mengembalikan integritinya, istiqamahnya dan keteladanannya serta kembali mampu berada di bahagian hadapan dalam kepemimpinan di seluruh bangsa di dunia, sebagimana firman Allah Swt:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”. (QS Ali Imran:110)

Bahwasanya krisis yang paling serius yang terjadi pada saat ini adalah krisis keteladanan; keteladanan yang baik dan soleh di tahap masyarakat dan bangsa, bukan hanya pada tahap individu, kerana kita mempunyai peribadi teladan, namun bangsa tidak dapat berubah oleh individu yang kecil, melainkan nasib bangsa-bangsa memerlukan perubahan kolektif dan kerja secara kolektif, dan jika terjadi kekosongan yang panjang dalam masalah ini, maka akan menjadi ancaman krisis bagi seluruh dunia bahkan akan runtuh kehidupan bangsanya dan mengalami kegagalan sistem yang ada dan pada akhirnya akan berpaling dari Allah Swt.

Sesungguhnya umat Islam ketika ini sangat perlu untuk mengingati sirah dan mengenang perjalanan hidup nabi Muhammad saw yang telah menanggung beban menghadapi berbagai ujian, celaan dan siksaan, sabar dalam meniti jalan yang berat dan penuh onak dan duri demi tegaknya ajaran Islam dan terbangunnya jati diri dan umat yang mulia sehingga mereka menjadi teladan yang baik secara nyata, menghilangkan “wahm”(keraguan) dalam jiwa mereka dan menghancurkan kesewenangan dan ketidakadilan di negara mereka.

Setiap muslim dan muslimah memiliki kewajiban untuk meneladani Rasulullah saw dalam berbagai aspek kehidupan mereka, kerana perkara tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai keamanan dan kebahagiaan di dunia serta keberuntungan dan nikmat di akhirat.

Meneladani Rasulullah saw dapat ditinjau dari berbagai sudut

1. Ibadah: Bahwa beliau adalah orang yang paling tahu dan mengenal Allah, orang yang paling takut dan bertaqwa, namun beliau orang yang kadang-kadang berpuasa dan kadang-kadang berbuka, tidur dan bangun serta menggauli wanita (isteri) dengan baik, namun tidak mempengaruhi keadaan beliau sebagai orang yang paling banyak beribadah.

2. Berinteraksi dengan tetangga: Nabi saw bersabda:

“Jibril selalu mewasiatkan kepada saya tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa tetangga mendapat hak warisan”. (Muttafaq alaih)

3. Berinteraksi dengan sesama manusia: Beliau kadang-kadang menjual dan membeli, sangat sopan jika menjual dan sangat ramah jika membeli, ramah ketika memutuskan hukum dan ramah pula saat menuntut hukuman.

4. Akhlaq dan perilaku secara umum: Nabi saw adalah sebaik-baik manusia dalam berakhlaq dan beretika, orang yang paling mulia dan paling bertaqwa dalam berinteraksi. Allah berfirman sambil memuji nabi saw:

 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS Al-Qalam:4)

Dan Aisyah pernah berkata ketika ditanya kepadanya tentang akhlaq nabi saw, beliau berkata:

“Akhlaq nabi adalah Al-Qur’an”. (HR Muslim)

5. Damai dan Perang serta selalu menghormati dan memenuhi janji: “Rasulullah saw masuk ke kota Madinah dengan mengangkat bendera perdamaian.

Ketika masuk kota Madinah beliau berkata:

“Wahai sekelian manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, solat malamlah ketika orang lain tidur lelap niscaya masuk surga dengan selamat”. (HR Tirmidzi dari Abdullah bin Salam)

Dan ketika memasuki kota Makkah setelah berhasil menaklukkannya, beliau berkata kepada orang yang memusuhi dan memeranginya:

“Pergilah kamu, hari ini kamu bebas”.

Demi Allah, Sungguh sangat menakjubkan sejarah hidupmu, wahai Rasulullah. Sungguh agung perilaku dan akhlakmu, sehingga semua itu adalah madrasah Ilahiyah bagi setiap pemimpin, bagi setiap presiden, bagi setiap penguasa, bagi setiap komandan, bagi setiap hakim, bagi setiap ahli politik, bagi setiap guru, bagi setiap pasangan suami isteri, bagi setiap ibubapa.

Engkau adalah suri tauladan yang sempurna bagi seluruh manusia, dan bagi setiap yang menginginkan kesempurnaan dalam berbagai bentuk dan manifestasi, segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada Nabi Muhammad saw untuk kami semua, dan segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada mu untuk umat manusia seluruhnya.

Umat Islam memperingati sirah Rasulullah saw setiap hari

Kita memperingati sirah dan kehidupan Rasulullah saw bukan sehari dalam sebulan, namun kita melakukannya setiap hari dan bukan sekali dalam sehari dalam satu hari namun puluhan kali; ketika ada seruan dan ajakan kepada solat, dunia seluruhnya menjawab seruan azan; aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Setiap kali bertasyahud dalam solat, seorang muslim seakan-akan bertemu Rasulullah saw dengan mengucapkan salam: “Assalamu’alaika Ayyuhan nabi”, seakan-akan mengunjunginya secara maknawi dan bertemu dengannya, menyambut dan melahirkan rasa sukacita kepadanya.

Manusia cenderung terjerumus ke lembah kehancuran

Bagi para pemerhati situasi dunia ketika ini akan melihat bahwa ramai manusia yang cenderung kepada hawa nafsu yang menghinakan seakan-akan datang kepada semua orang dan hampir semuanya, dan dunia kini dibahagikan menjadi dua kelompok:

1. Kelompok pertama ialah yang mempunyai kekuatan di mana dengan taringnya ingin mendominasi pihak lain dan memaksakan kehendak dari apa yang mereka inginkan, membuat perjanjian yang menjadi sebab untuk merampas sumber semulajadi alam mereka dan menjadikan diri mereka sebagai pemimpin mereka, dan selanjutnya mencegah mereka dari kebebasan dan kedaulatan di atas tanah mereka serta kebebasan melakukan tindakan dari potensi yang mereka miliki. Selain itu mereka juga menyalakan api peperangan yang mereka istilahkan sebagai tindakan preventif, hanya untuk mengamankan dan melancarkan kepentingan mereka sendiri, membatasi kebebasan dan kemerdekaan warga yang bergolak dalam diri mereka untuk melakukan penentangan terhadap ketidakadilan, mengembalikan hak-hak dan kebebasan bangsa serta menolak penjajahan.

Bahkan, mereka tidak melakukan itu sahaja, namun mereka juga menghidupkan api peperangan antara anak-anak bangsa dalam satu negara (perang saudara), sehingga anak bangsa tersebut meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka dan bergantung kepada pertolongan mereka.

2. Kelompok kedua adalah kelompok yang lemah dan dihinakan kerana kemiskinan dan kebodohan, dibutakan oleh penyakit, dan kelemahannya kian terus bertambah oleh adanya pemerintah kuku besi yang membatasi kebebasan dan menurunkan berbagai macam warna dari ketidakadilan, menutup berbagai segi mata pencarian dan enggan melakukan pembaikan kecuali harus tunduk pada kekuasaannya, menguasai segala potensi yang dimiliki, menghisap apa yang tersisa dari darahnya, melakukan penganiayaan hingga ke noktah yang maksima sehingga menuju ke puncak penyiksaan di saat adanya usaha-usaha tindakbalas rakyat yang tertindas dan tertekan, berteriak kesakitan atau meminta pertolongan.

Situasi yang suram ini telah menjadi lumrah di sebahagian besar masyarakat di negara Islam di seluruh dunia ketiga yang hidup di bawah tingkat kemiskinan, pengangguran di semua kelompok masyarakat, penyakit yang bermaharajalela, ubat-ubatan yang mahal dan sukar didapati sehingga jika dijumpai sekalipun, tidak mampu untuk membelinya, terjadi rasuah dalam pendidikan dan pemerintahan, dan tersebarnya aktiviti penyuapan dan sikap pilih kasih, sikap ego, menyebar kejahatan dalam berbagai strata masyarakat, sehingga pemerintah yang memimpin suatu negara hanya menyibukkan diri untuk menyelesaikan permasalahan ini dan sebahagian mereka ada yang melakukan sekatan terhadap para generasi kebangkitan Islam yang berusaha ingin memperbaiki keadaan masyarakat dan melakukan kebangkitan serta menghalang musuh-musuhnya dari Zionis dan para agennya.

Musuh takut terhadap nyalaan api keimanan

Perkara ini seharusya difahami, bahwa musuh sangat menyedari bahwa rahsia kekuatan umat dan bangsa terletak pada kekuatan iman dan cinta kepada jihad dan syahadah di jalan Allah; oleh kerana itu perkara pertama yang mereka lakukan adalah memusnahkan nyalaan api iman dan mengerahkan segala potensi yang mereka miliki dan bekerjasama dengan agen-agen mereka untuk mewujudkan impian mereka, namun Allah menghinakan tipu daya mereka dan memperkukuh umat sesuai dengan fitrahnya dan menyambutnya setiap kali ada seruan jihad dan syahadah.

Published inDasar Keyakinan