Skip to content

Kita dan Para Ulama Salaf

Kita dan Para Ulama SalafPara ilama salaf tidak suka kepada popularitas. Mereka berusaha  menghindarinya. Konon, setiap kali Ibrahim An-Nakha’i dikerumuni empat orang di masjid yang ingin menimba ilmu darinya, ia malah  pergi meninggalkan mereka karena khawatir ia akan terkenal.

Ibnu Mas’ud melarang orang-orang yang berjalan mengawali belakangnya, seraya mengatakan, “ini bisa menjadi fitnah bagi orang yang dikawal maupunn yang mengawal.”

Ibnu Al-Mubarak marah ketika selesai meriwayatkan hadits lalu ada yang bertanya kepadanya, “bagaimana pendapat anda, wahai Abu Abdurahman? “ ia berkata” memangnya siapa kita ini, sehingga berani menyampaikan pendapat?”

Ada seorang ulama salaf yang mengatakan, “ seandainya kalian mengenal aku, kalian pasti akan menaburkan passir kekepalaku.”

Masih banyak lagi ucapan-ucapan senada dari ulama-ulama salaf yang menggambarkan sifat tawadhu’ dan merasa masih bodoh.

Hal itu nampak kontras sekali dengan sikap kita yang justru ingin dikenal dan tonjolkan sebagai orang yang hebat. Kita suka mencari-cari kelemahan orang lain, tetapi lupa pada kelemahan diri  kita sendiri. Kita merasa senang kepada orang yang memuji kita dan membenci orang yang memberi nasehat kepada kita. Soalnya niat kita sudah tidak murni. Kita jarang ikhlas dan ibadah kita masih sangat minim sekali.

Para ulama salaf dahulu lari  dari kedudukan atau jabatan. Ketika ditawari untuk emnjadi hakim, mereka menolak keras. Berbeda dengan kita sekarang, yang justru  mengejar-ngejar jabatan tersebut. Bahkan jika ada salah seseorang dari kita yang berhasil mendapatkan jabatan, meski dengan cara apapun, ia menikmati ucapan selamat yang mengalir kepadanya. Hal itu, karena para ulama salaf adalah orang-orang yang arif. Bukan seperti kita yang bodoh. Perilaku mereka bersih, tidak seperti perilaku kita yang masih kotor.  Dan mereka mengetahui jalan yang lurus, bukan seperti kita yang sering kebingungan.

Para ulama salaf dahulu takut memberikan fatwa. Bahkan dimintai memberikan fatwa, mereka satu sama lain saling melempar untuk menjawabnya. Berbeda dengan kita yang justru saling berlomba dan berebut unntuk menjawab pertanyaan sebelum didahului oleh teman kita.

Hal itu karena mereka memikirkan akibatnya. Mereka ingat akan tanggung jawabnya dihadapan Allah pada hari kiamat kelak ketika mereka diintrogasi oleh Allah. Sementara kita justru berambisi ingin menonjol untuk mendapatkan simpati masyarakat demi kepentingan-kepentingan duniawi.

Para ulama salaf sering menyembunyikan amal-amal mereka, menutup-nutupi kebaikan-kebaikan mereka, dan menyimpan rapat-rapat kemuliaan mereka. Sementara kita justru sebaliknya. Hal itu karena mereka beramal secara ikhlas hanya untuk Allah demi mendapat ridha-Nya. Sementara kita beramal agar mendapatkan pujian dari orang lain. Hati kita menyukai balasan yang segera dan menginginkan dunia yang fana. Tolong berikan rahmat-Mu ya Allah.

Published inSalafiyah