Skip to content

Pertemuan Dajjal dengan Dua Nabi

Pertemuan Dajjal dengan Dua NabiSetelah menuntaskan hasratanya tinggal di negeri nenek moyangnya, Samirah, ia berkeinginan untuk pergi menjelajahi negeri-negeri yang terkenal dengan ilmu pengetahuan dan peradabannya. Sungguh apa yang dilakukannya itu bukanlah untuk mempelajari olmu pengetahuan demi mendapatkan ridho Allah Swt. Melainkan guna menyesatkan umat manusia agar terjerumus kelembah kehancuran. Tibalah, ia di Mesir, negeri para Fir’aun yang terkenal memiliki adat istiadat dan budaya yang sangat maju. Ia berusaha mendekati seorang dukun terkenal dengan mengungkapkan keinginannya menjadi pengikut dan pelayan setia.ia juga berkeinginan untuk menemui sang Fir’aun namun dukun itu melarangnya. Sang dukun bercerita kepadanya tetang perihal watak Fir’aun yang tidak suka terhadap orang asing. Fir’aun juga telah membunuh setiap bayi laki-laki yang dilahirkan serta serta mengaku sebagai Tuhan. Dukun itu juga bercerita tetang perlakuaknnya terhadap anak yang telah ditemukannya dialiran sungai Nil, Musa.

Karena keistimewaan yang tdimilikinya, dukun itu pun melanjutkan kisahnya bahwa anak yang ditemukan disungai nil itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang berwatak baik, jujur dan berwajh tampan. Dukun itu mullai membandingkan antara musa yang ditemukan disungi Nil dengan dirinya yang dianggap sebagai Musa yang diselamatkan oleh para malaikat. Sehingga pemuda berusia lanjut itu pun bergelar Musa al-Samiri atau bisa disebut al-Samiri.

Musa al-Samiri tinggal beberapa tahun di Mesir dan mendengar berita kehebatan serta menyaksikan mukjizat Musa sang Nabi bersama saudaranya harun yang ditujukan kepada Fir’aun dan kaumnya, ia sempat menikah dengan gadis Mesir meski ia tidak dikaruniai seorang anak pun karena ia mandul.

Musa al-Samiri bertemu dengan Nabi Musa hingga menjadi percakapan diantara keduanya. al- Samiri bercerita panjang lebar mengenai keturunan Ishaq bin Ya’qub. Sedangkan nabi Musa tidak meminta apapun kecuali agar al-Samiri itu beriman kepada Allah Swt. Namun hatinya yang telah buta memaksanya untuk tidak menerima seruan itu. Ketika nabi Musa tengah berkhalwat sesuai dengan perintah Tuhannya dan menitipkan kaumnya kepada saudaranya, Harun, maka ia memaafkanya unutk melancarakn propagandanya dengan menyebarkan kepercayaan nenek moyangnya berupa penyembahan terhadap patung sapi. Umat Nabi Musa pun terpecah dan termakan hasud kedengkian al-Samiri itu.

Allah Swt berfirman:

قَالَ فَإِنَّا قَدۡ فَتَنَّا قَوۡمَكَ مِنۢ بَعۡدِكَ وَأَضَلَّهُمُ ٱلسَّامِرِيُّ ٨٥ فَرَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ أَلَمۡ يَعِدۡكُمۡ رَبُّكُمۡ وَعۡدًا حَسَنًاۚ أَفَطَالَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡعَهۡدُ أَمۡ أَرَدتُّمۡ أَن يَحِلَّ عَلَيۡكُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُم مَّوۡعِدِي ٨٦ قَالُواْ مَآ أَخۡلَفۡنَا مَوۡعِدَكَ بِمَلۡكِنَا وَلَٰكِنَّا حُمِّلۡنَآ أَوۡزَارٗا مِّن زِينَةِ ٱلۡقَوۡمِ فَقَذَفۡنَٰهَا فَكَذَٰلِكَ أَلۡقَى ٱلسَّامِرِيُّ ٨٧ فَأَخۡرَجَ لَهُمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا لَّهُۥ خُوَارٞ فَقَالُواْ هَٰذَآ إِلَٰهُكُمۡ وَإِلَٰهُ مُوسَىٰ فَنَسِيَ ٨٨

“Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri, kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, dan kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?” Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya” kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” (QS. Thaha: 85-88)

Demikainlah Al-Qur’an menyebutkan sekelumit kisah tentang al-Samiri yang berhasil memperdaya kaum nabi Musa. Dengan akal cerdiknya, ia menyesatkan para kaum yang lemah iman, dengan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya setelah bertahun-tahun belajar diberbagai negeri ia membuat patung sapi yang cetakannya bersama perhiasan para penduduk Mesir yang berhasil diperdaya olehnya.

Musa yang datang dan mendapati kaumnya tengah berada dalam kesesatan yang serius menjadi marah besar. Ia pun menemui Harun dan menarik Jenggot saudaranya itu.

 قَالَ يَٰهَٰرُونُ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ ٩٢ أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي ٩٣

“Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku? (QS. Thaha: 92-93)

Lalu, nabi Musa bertanya kepada al-Samiri perihal perbuatannya itu, sehigga ia bercerita perihal mengambil tanah yang digunakan oleh Malaikat Jibril yang semapt dibawahnya dari pulau terpencil itu lalu dilemparkannya pada patung sapi yang dilapisi emas itu sebagaimana firman Allah Swt:

 قَالَ فَمَا خَطۡبُكَ يَٰسَٰمِرِيُّ ٩٥ قَالَ بَصُرۡتُ بِمَا لَمۡ يَبۡصُرُواْ بِهِۦ فَقَبَضۡتُ قَبۡضَةٗ مِّنۡ أَثَرِ ٱلرَّسُولِ فَنَبَذۡتُهَا وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتۡ لِي نَفۡسِي ٩٦ قَالَ فَٱذۡهَبۡ فَإِنَّ لَكَ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَۖ وَإِنَّ لَكَ مَوۡعِدٗا لَّن تُخۡلَفَهُۥۖ وَٱنظُرۡ إِلَىٰٓ إِلَٰهِكَ ٱلَّذِي ظَلۡتَ عَلَيۡهِ عَاكِفٗاۖ لَّنُحَرِّقَنَّهُۥ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُۥ فِي ٱلۡيَمِّ نَسۡفًا ٩٧ إِنَّمَآ إِلَٰهُكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ وَسِعَ كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمٗا ٩٨

“Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri? Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku” Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan) Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (QS. Thaha: 95-98)

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan jejak rasul disini ialah ajaran-ajarannya. Jadi, al-Samiri mengambil sebagian dari ajaran-ajaran atau syariat yang dibawah oleh nabi Musa, kemudian dilemparaknnya ajaran-ajaran itu sedangkan sebagian yang lain berpendapat yang dimaksud itu ialah jejak telapak kuda Jibril. Artinya, al-Samiri mengambil segumpal tanah dari jejak itu lalu dilemparaknnya ke dalam logam yang sedang dihancurkan sehingga logam itu berbentuk anak sapi yang mengeluarkan suara.

Demikianlah salah satu cara Dajjal dalam menyesatkan kaum nabi Musa. Ia mengambil beberapa ajaran yang dibawah sang nabi, lalu dicampur dengan seribu khurafat dan takhayul yang menyesatkan. Sehingga bagi orang-orang yang lemah imannya akan dengan mudah terpedaya. Setelah berhasil memperdaya kaum nabi Musa ia memutuskan unutk kembali kepulau terpencil menjadi rumah asalnya. Demikianlah perbuatan al-samiri yang berusaha lepas dengan atas apa yang telah diperbuatnya. Setelah ia berhasil menebar fitnah terhadap umat nabi Musa, ia pergi begitu saja meninggalkan mereka dalam kesesatan. Merekka tidak mengetahui bahwa Allah Swt telah berfirman:

فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِ‍َٔايَٰتِهِۦٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ يَنَالُهُمۡ نَصِيبُهُم مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوۡنَهُمۡ قَالُوٓاْ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ٣٧

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir”. (QS. al- A’raf: 37)

Ia pun sampai dpulau dan hendak menemukan binatang al-Jassasah, namnun binatang itu telah kehilangan segala kemampuannya dan hanya bisa mengucap, La Ilaha Illallah. Mengetahui hal itu, al-Samiri pun kembali ketanah nenek moyangnya, Samirah. Di sana ia mendapati semuanya telah berubah. Di tempat itu, ia bertemu dengan orang-orang yang mengaku sebagai kelompok menamakan dirinya al-Sumriyyah.

Ada pun yang telah mengejutkannya ialah ketika ia mendengar kabar berita bahwa seseorang keturunan nabi Daud dari pihak ibu yang mengaku sebagai nabi. Dialah Isa bin Maryam. Al-Samiri pun mulai merasa tertarik untuk mengetahui apakah benar lelaki itu ialah nabi yang diberi perintah menyempurnakan syariat Yahudi dan menyelamatkan kaum Yahudi yang bercerai-bercerai ia pun menemui lelaki yang mendapat gelar al-masih itu. Lalum, al-Samiri memerintahkan seseorang menemuinya. Sang utusan itu pun bertanya apakah anda tahu siapakah yang berada di luar? Isa bin Maryam menjawab, “wahai utusan, sampaikanlah kepada orang yang berada di luar bahwa Allah itu maha pengasih lagi maha pengampun. Dia maha menerima taubat orang yang bersedia taubat dan mengesankan-Nya. Dia adalah zat yang telah menyelamatkan seorang anak lelaki kecil dari kekejaman penguasa. Dialah yang melendungi anak itu disebuah pulau terpencil tempat binatang raksasa. Dialah yang telah memrintahkan Jibril untuk memerinya pelajaran mengesankan-Nya dan beribadah kepada-Nya dan juga akan memaafkan fitnah yang telah dilakukan terhadap Bani Israil apabila ia berkenan untuk beriman kepada-Nya dan juga kitab yang dibawah olehnya berupa Injil.

Dengan segera utusan itu keluar menemui al-Samri dan menyampaikan apa yang telah di ucapakan oleh Isa bin Maryam. Mendengar itu al-Samiri merasa yakin bahwa Isa bin Maryam merupakan nabi yang di utus menyelamatkan kaum Yahudi dari pertikaian. Namun bibirnya tidak sejalan dengan hatinya. Apa yang diucapkan lisannya berbeda jauh dengan apa yang dirasakan sesungguhnya. Al-Samiri pun berkata, “ia bukanlah nabi, melainkan tukang sihir yang dirasuki oleh setan. Apabila ia seorang nabi, maka ia seorang nabi, maka ia tidak akan pernah menceritakan perkara yang ghaib dan setan memberitahukannya hanya mencuri dengar dari berita-Nya.”

Memang benar bahwa Allah Swt. Telah berfirman:

 هَلۡ أُنَبِّئُكُمۡ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ ٱلشَّيَٰطِينُ ٢٢١ تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ٢٢٢  يُلۡقُونَ ٱلسَّمۡعَ وَأَكۡثَرُهُمۡ كَٰذِبُونَ ٢٢٣

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun, mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta”. (QS. As-Syu’ara’: 221-223)

Demikianlah uacapan al-Samiri yang berkutuk itu. Dengan tipu muslihatnya, ia berusaha menebar fitnah kepada kaum Isa bin Maryam dengan menyatakan bahwa sang nabi ialah tukang sihir yang dirasuki setan dan menddapat kabar berita yang ghaib darinya. Lelaki terkutuk itu telah memutar balik segala fakta yang ada. Sesungguhnya ia sendiri yang layaknya setan berwujud manusia, bukanlah Isa bin Maryam yang merupakan kekasih dan nabi Allah yang juga mendapatkan mukjizat seta kitab petunjuk, injil. Sebagaimana Nabi Musa yang memperingatkan umatnya atas fitnah dajjal yang terkutuk, nabi Isa pun melakukan hal yang sama. Beliau memperingatkan akan fitnah Dajjal yang mengaku sebagai Tuhan.

Published inDajjal