Skip to content

Makna Besar di Balik Kalimat “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”

Makna Besar di Balik Kalimat “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”Dalam melaksanakan kewajiban shalat tentunya kita di haruskan untuk selalu khusyu dalam mengingat sang Khalik tetapi itu semua tidak bisa kita lalukan karena banyak yang selalu mengganggu fikiran kita unutk lepas dari ingata kita kepada Allah Swt tidak seperti para sahabat-sahabat Rasulullah Saw dahulu yang selalu istiqamah dalam melaksankan kewajiban shalat ini olehnya itu ada beberapa dalam gerakan shalat kita dituntun untuk memfokuskan fikiran kita dan salah satunya pada saat kita mengucapkan kalimat “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” lalu apa sebetulnya makna dari kalimat ini? mari kita bersama membahas bersama dalam artikel kali ini yang sang khalifah berikan.

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 5)

Maksudnya, kami mengkhususkan kepada diriMu dalam beriba-dah, berdo’a dan memohon pertolongan.

Para ulama dan pakar di bidang bahasa Arab mengatakan, didahulukannya maf’ul bih (obyek) ” Iyyaaka ” atas fi’il (kata kerja) ” na’budu wa Nasta’in ” dimaksud agar ibadah dan memohon pertolongan tersebut dikhususkan hanya kepada Allah semata, tidak kepada selainNya.

Ayat Al-Qur’an ini dibaca berulang-ulang oleh setiap mus-lim, baik dalam shalat ataupun di luarnya. Ayat ini merupakan ikhtisar dan intisari surat Al-Fatihah, yang merupakan ikhtisar dan intisari Al-Qur’an secara keseluruhan.

Ibadah yang dimaksud oleh ayat ini adalah ibadah dalam arti yang luas, seperti di dalamnya shalat, nadzar, menyembelih hewan kurban, juga do’a. Karena Rasulullah  Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda:

“Do’a adalah ibadah.” (HR At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

Sebagaimana shalat adalah ibadah yang tidak bisa ditujukan kepada rasul atau wali, demikian pula halnya dengan do’a. Ia adalah ibadah yang hanya bisa ditujukan kepada Allah semata. Allah berfirman:

قُلۡ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ٢٠

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (QS. Al-Jin: 20)

Rasulullah  Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda,

“Do’a yang dibaca oleh Nabi Dzin Nun (Yunus) ketika berada dalam perut ikan adalah, ‘Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku seperti orang-orang yang zhalim.’ Tidaklah seorang muslim berdo’a dengannya untuk (meminta) sesuatu apapun, kecuali Allah akan mengabulkan padanya.” (Hadits shahih menurut Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Nabi  Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda,” Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika eng-kau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan Kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

Imam Nawawi dan Al-Haitami telah memberi penjelasan terhadap makna hadits ini, secara ringkas penjelasan tersebut sebagai berikut, “Jika engkau memohon pertolongan atas suatu urusan, baik urusan dunia ataupun akhirat maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Apalagi dalam urusan-urusan yang tak seorang pun kuasa atasnya selain Allah. Seperti menyembuhkan penyakit, mencari rizki dan petunjuk. Hal-hal tersebut merupakan perkara yang khusus Allah sendiri yang kuasa.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ١٧

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. A1-An’am: 17)

Barangsiapa menginginkan hujjah (argumentasi/dalil) maka cukup baginya Al-Qur’an, barangsiapa menginginkan seorang peno-long maka cukup baginya Allah, barangsiapa menginginkan seorang penasihat maka cukup baginya kematian. Barangsiapa merasa belum cukup dengan hal-hal tersebut maka cukup Neraka baginya. Allah berfirman:

أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِكَافٍ عَبۡدَهُۥۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ٣٦

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya….” (QS. Az-Zumar: 36)

Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitab Al-Fathur Rabbani berkata, “Mintalah kepada Allah dan jangan meminta kepada selain-Nya. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan memohon per-tolongan kepada selainNya. Celakalah kamu, di mana kau letakkan mukamu kelak (ketika menghadap Allah di akhirat), jika kamu me-nentangNya di dunia, berpaling daripadaNya, menghadap (meminta dan menyembah) kepada makhlukNya serta menyekutukanNya. Engkau keluhkan kebutuhan-kebutuhanmu kepada mereka. Engkau bertawakkal (menggantungkan diri) kepada mereka. Singkirkanlah perantara-perantara antara dirimu dengan Allah. Karena ketergan-tunganmu kepada perantara-perantara itu suatu kepandiran. Tidak ada kerajaan, kekuasaan, kekayaan dan kemuliaan kecuali milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Jadilah kamu orang yang selalu bersama Allah, jangan bersama makhluk (maksudnya, bersama Allah dengan berdo’a kepadaNya tanpa perantara melalui makhlukNya).

Memohon pertolongan yang disyari’atkan Allah adalah dengan hanya memintanya kepada Allah agar Ia melepaskanmu dari berbagai kesulitan yang engkau hadapi.

Adapun memohon pertolongan yang tergolong syirik adalah dengan memintanya kepada selain Allah. Misalnya kepada para nabi dan wali yang telah meninggal atau kepada orang yang masih hidup tetapi mereka tidak hadir. Mereka itu tidak memiliki manfaat atau mudharat, tidak mendengar do’a, dan kalau pun mereka mendengar tentu tak akan mengabulkan permohonan kita. Demikian seperti dikisahkan oleh Al-Qur’an tentang mereka.

Adapun meminta pertolongan kepada orang hidup yang hadir untuk melakukan sesuatu yang mereka mampu, seperti membangun masjid, memenuhi kebutuhan atau lainnya maka hal itu dibisakan. Berdasarkan firman Allah:

…. وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ …… ٢

“…..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa….. (QS. Al-Ma’idah: 2)

Dan sabda Rasulullah  Saw:

“Allah (akan) memberi pertolongan kepada hamba, selama hamba itu memberi pertolongan kepada saudaranya.” (HR. Muslim)

Di antara contoh meminta pertolongan kepada orang hidup yang dibisakan adalah seperti dalam firman Allah:

وَدَخَلَ ٱلۡمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفۡلَةٖ مِّنۡ أَهۡلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيۡنِ يَقۡتَتِلَانِ هَٰذَا مِن شِيعَتِهِۦ وَهَٰذَا مِنۡ عَدُوِّهِۦۖ فَٱسۡتَغَٰثَهُ ٱلَّذِي مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِي مِنۡ عَدُوِّهِۦ فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيۡهِۖ قَالَ هَٰذَا مِنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِۖ إِنَّهُۥ عَدُوّٞ مُّضِلّٞ مُّبِينٞ ١٥

“….Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya…..” (QS. Al-Qashash: 15)

Juga firman Allah yang berkaitan dengan Dzul Qarnain:

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيۡرٞ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجۡعَلۡ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُمۡ رَدۡمًا ٩٥

“Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 95)

Published inAl-Firqatun Najiyah