Skip to content

Kehidupan Dajjal yang Luas

Kehidupan Dajjal yang LuasSetelah berhasil memeperdaya dan menebarkan fitnah pada masa dua nabi, Musa dan Isa bin Maryam, al-Samiri atau Dajjal memutuskan unutk mengembara ke berbagai belahan dunia. Ia pergi menuju ke negeri-negeri yang tersohor dengan tradisi ilmu pengetahuannya. Ratusan tahun dihabiskannya dengan mengarungi samudera dan menjelajahi hutan belantara. Ia telah mempelajari berbagai pengetahuan dan kebudayaan dari berbagai peradaban yang sekarang menjadi kiblat kebudayaan moderen. Setelah lebih dari seratus tahun di Mesir, ia pergi ke India, Jepang, China dan sampai di negeri yang sekarang disebut negara Amerika Serikat. Ia mengorbankan api peperangan fitnah dan melancarkan berbagai kejahatan, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan lain sebagainya.

Kejenuhan akan obsesi besarnya untuk menguasai dunia membuatnya ingin rehat sejenak dan kembali menuju pulau yang membesarkannya. Dengan segala harta benda dan kekayaan yang berhasil dikumpulkannya selama merantau ke berbagai negeri, ia berlayar menuju pulau terpencil itu. Dengan perahu kecil, ia datang sendiri dan alangkah terkejutnya ketika ia menginjakan kaki kotornya di tepi pantai. Ia mendapati binatang al-Jassasah telah menghadangnya bersama dua puluh makhluk yang berwujud tinggi besar dan wajahnya bersinar layaknya matahari.

Dajjal merasa takut melihat tingkah binatang al-Jassasah yang tidak seerti biasanya, maka ia pun bertanya, “ Ada apa ini? Siapa mereka?” Dajjal mengucapkannya dalam ketakutan yang sangat. Itulah jati diri Dajjal yang sebenarnya, seorang penakut yang bersembunyi dengan topeng kebohongan.

Binatang al-Jassasah menjawab, “Wahai orang bodoh. Engkau telah menyia-nyaiakan dua kesempatan yang telah diberikan. Tidak ada yang tersisa kepadamu kecuali janji terakhir.”

Tanpa menunggu lama, dua puluh makhluk yang menemani binatang al-Jassasah menyerang hingga membuatnya pingsan.

Stelah siuman, Dajjal terkejut mendapati tubuhnya lunglai tak kuasa bergerak. Ketika hendak meggerakan kakinya untuk berdiri, ia tak kuasa karena terasa berat. Begitu juga dengan kedua tangannya ketika dirinya sepenuhnya tersadar, matanya mendapati kedua tangan dan kakinya tengah terikat rantai. Ia pun merasa takut yang menderu. Ia berusaha melepaskan ikatan rantai itu, namun usahanya itu sia-sia.

Dalam keadaan tak berdaya, binatang al-Jassasah berkata kepadanya, “Wahai Dajjal, sekarang engkau berada pada zaman akhir yang mana beberapa hari yang lalu, seorang nabi menutup telah lahir. Janji Allah Swt telah tiba masanya. Engkau tidak akan bisa lepas dari belenggu rantai yang mengikatmu ini hingga wafatnya nabi Muhammad Saw. Tanda dekatnya keluarmu dari gua Madinah al-Munawwarah setelah orang-orang arab mengsirnya dan juga para pengikutnya. Adapun tanda keluarmu sebagai orang sombong ialah terputusnya pohon kurma Baishan, berkurangnya air danau Thabary, keringnya mata air Zughar dan terjadinya gempa bumi dahsyat sebelum keluarnya musuhnya yang akan memerangimu.”

Dajjal bertanya kembali, “Bagaimana perkataanmu bisa dipercaya? Mengapa engkau tidak mencabut sihirmu ini? Sungguh aku ingin keluar untuk memerintah dunia dunia.”

Binatang al-Jassasah menjawab,” Sabar atau pun tidak, janji Allah akan tetap terlakana. Engkau telah dilaknat, diusir, dan dilemparkan sebagaimana Iblis. Engkau telah diperigatkan Tuhanmu melalui para utusan-Nya, namun engkau tidak menghiraukannya. Hari demi hari dilalui Dajjal di dalam gua sambil menunggu kepastian yang telah dijanjikan. Setiap harinya, biantang al-Jassasah membawakannya buah-buahan. Hal itu akan berlangsung hingga masa yang dinantikan tiba, yakni wafatnya sang nabi penutup, Muhammad Saw.

Published inDajjal