Skip to content

Iman Pembuka Pintu Surga

Iman Pembuka Pintu SurgaAllah Swt berfirman dalam kitab sucinya:

إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ وَلُؤۡلُؤٗاۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ ٢٣

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al-Hajj: 23)

Dalam sebuah hadits, nabi pernah bersabda,” Tidaklah seorang hamba yang meninggal dunia mengucapkan,” Asyhadu an laa ilaa ha illallah wa anni rasulullah” (mengucapkan syahadat) dengan penuh keyakinan hati, keculai wajib baginya masuk surga”.

Dalam hadits yang lain nabi juga bersabda, barang siapa yang diakhiri hayatnya membaca “Laa ilaaha illallah” maka ia akan masuk surga”.

Tidak hanya itu dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa suatu saat nabi menceritakan kepada para sahabat bahwa beliau didatangi oleh malaikat jibril unutk menyampaikan kabar gembira. Sabda nabi, “Barang siapa diatara umatku yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu maka pasti ia akan masuk surga”.

Mendengar penjelasan itu, salah satu sahabat ada yang bertanya, “Apakah tetap masuk surga meski orang itu pernah berzina dan pernah mencuri?”.

Nabi menjawab, “Ya, sekalipun ia pernah berzina dan pernah mencuri ia akan tetap masuk surga!”

Tiga keterangan hadits diatas menjelaskan adanya sebuah jaminan bahwa siapa saja yang pernah mengucapkan syahadat atau megucapkan kalimat tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tidak menyekutukan Allah, maka passti dan pasti ia akan masuk surga, meski ia pernah melakukan dosa yang tidak bisa dianggap remeh, yakni melakukan dosa besar.

Apa makna yang terkandung dalam jamina itu? Apakah hanya sekedar mengucapkan syahadat atau mengucapkan kalimat tahlil saja seseorang sudah mendapat jaminan masuk surga meski ia mempunyai dosa? Begitu mudahkah?

Ya! Namun perlu dipahami bahwa makna terdalam dari pengucapan syahadat dan kalimat tahlil adalah bukan sekedar pengucapan dibibir saja. Tetapi lebih dari itu makna terdalam yang terkandung pada kalimat tersebut adalah sebuah pengejawatahan dari iman. Artinya jaminan masuk surga itu baru akan diberikan kepada seseorang jika ia benar-benar punya iman. Jadi intinya adalah pada unsur iman ini. Seseorang bisa memperoleh jaminan surga atau tidak adalah terletak pada sejauh mana ia memiliki iman atau tidak.

Namun perseolannya sekarang adalah apakah kita sudah termasuk kategori sebagia orang yang beriman atau belum. Dengan kata lain, apakah keimanan kita ini sudah bisa dijadikan sebagai jaminan untuk mendapatkan surga atau tidak.

Iman, sebagaimana yang di ta’rifkan oleh banyak ulama adalah membenarkan dalam hati ( Tashidiqun bi Qalbi), mengingkrarkan dalam lisan (Ikrarun bi lisan) dan mengamalkannya dalam perbuatan (amalu bil arkan). Dari pengertian ini, maka ada tiga pondasi utama dalam iman, yaitu:

  1. Percaya dalam hati

Percaya yang di maksud disini adalah meyakini bahwa Allah itu benar-benar Tuhan semesta alam. Allah-lah yang menciptakan segala yang ada di bumi dan yang ada di langit , Allah-lah Tuhan yang berhak disembah, dan Dia-lah yang mengatur segala-galanya. Ini merupakan garis besar dari rasa keyakinan terhadap Allah. Jadi intinya yang disebut imanadalah benar-benar percaya dan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang berhak disembah, sementara yang lain bukanlah Tuhan yang tidak pula berhak untuk dijadikan sebagai sesembahan. Selagi seseorang punya keyakinan seperti itu, maka secara teoritis ia sudah bisa disebut sebagai orang yang beriman.

  1. Pengucapan di lisan

Kepercayaan terhadap kebenaran Allah sebagai Tuhan saja belumlah cukup selagi kepercayaan itu belum diikrarkan dalam bentuk ucapan. Dalam hal ini ikrar dalam bentuk ucapan tidak bisa dianggap remeh. Pengikraran terhadap keyakinan dianggap sebagai bukti “sementara” bahwa seseorang benar-benar beriman. Seseorang yang sudah yakin kepada Allah dituntut unutk berani mengucapkan sekaligus menujukan keyakinannya itu dalam bentuk ikrar lisan. Dan inilah makna yang terkandung dari kalimah syahadat. Makanya setiap kali ada seseorang yang ingin masuk islam, maka wajib baginya mengucapkan kalimah syahadat sebagai bukti ikrar dari keimanannya.

  1. Pembuktian dengan perbuatan

Mengatakan percaya saja lalu diucapkan dalam bentuk ikrar syahadat saja pun sebenarnya belum cukup unutk disebut sebagai iman. Tuntunan wajib yang lain adalah keimanan itu harus dibuktikan dengan amal perbuatan. Inilah bukti kongkrik dari sebuah keimanan, bahkan inilah sebuah barometer yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur apakah seseorang itu benar-benar iman atau hanya sekedar iman-imanan atau iman hanya dalam pengakuan saja tetapi realitasnya tidak ada.

Sesungguhnya dalam sistem kepercayaan mana pun keimanan memang harus di buktikan dalam bentuk perbuatan atau yang sering disebut dengan amal shaleh . Al-Qur’an sendiri banyak menyebutkan bahwa orang-orang yang mengaku beriman harus bisa membuktikan keimanannya itu dengan amal perbuatan yang sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan. Bahkan dalam banyak ayat disebutkan bahwa keimanan bahwa keimanan yang berubah amal shaleh ini sajalah yang kelak akan berubah pahala surga, bukan keimanan yang hanya mengaku beriman tanpa ada pembuktian yang nyata.

Dalam salah satu ayat Allah berfirman:

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَهُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Dalam ayat yang lain juga disebutkan :

إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ وَلُؤۡلُؤٗاۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ ٢٣

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al-Hajj: 23)

Selain dari sebagaimana diatas, masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa diantara sekian banyak calon penghuni surga adalah mereka yang bukan saja beriman kepada Allah, namun keimanan itu mereka buktikan dengan beramal shaleh. Jadi, yang di maksud disini adalah beriman dan yang beramal shaleh; bukan hanya sekedar iamn dan percaya tanpa ada pembuktian yang jelas.

Kriteria iman dan amal shaleh sebagai jaminan seseorang bisa masuk surga sesungguhnya menunjukan bahwa Allah menuntut hamba-hamba-Nya yang mengaku telah beriman kepada-Nya dengan realisai amaliyah yang lebih konkrik, dalam hal ini adalah mau melaksanakan perbuatan-perbuatan baik, termasuk dalam hal ini adalah mau beribadah sebagai tanda dan bukti darikeimanannya.

Lantas, bagaimana dengan seseorang yang beriman namun tidak beramal shaleh, apakah mereka juga termasuk dalam kategori “calon ahli surga?”. Apakah keimanan mereka bisa dijadikan sebagai jaminan masuk surga sekaligus bisa dijadikan sebagai penangkal mendapatkan siksa?

Antara iman dan amal shaleh sesungguhnya merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian, jika ada seseorang yang mengakui iman kepada Allah namun ia tidak melaksanakan amal shaleh, maka yang perlu dipersoalkan sebenarnya adalah apakah keimanan yang demikian bisa disebut sebagai iman atau atau tidak. Kalau kata “iman” hanya sekedar diterjemahkan sebagai “keperccayaan” saja tidak lebih dari pada itu, maka iman tanpa bukti amal shaleh sudah bisa dikatakan cukup. Akan tetapi iman bukan sekedar kepercayaan. Al-Qur’an berkali-kali megingatkan bahwa iman membutuhkan pembuktian. Lihatlah sekian banyak ayat ternyata setiap kali kata pembuktian. Lihatlah sekian banyak ayat ternyata setiap kali kata-kata “amanu” (iman) disebut, pasti pada saat yang bersamaan kata “amilus shalihat” (amal shaleh) diikut sertakan pula. Apa artinya itu?

Ternyata iman harus dibuktikan dengan amal shaleh. Iman demikian inilah yang pantas menerima hadiah surga ddari Allah. Lantas, apa makna dari sabda nabi bahwa semua orang yang beriman akan masuk surga meski mereka melakukan dosa? Bukankah janji nabi itu mengandung arti bahwa setiap orang yang beriman pasti akan masuk surga meski mereka tidak melakukan amal shaleh?

Dalam haditsnya nabi bersabda yang artinya: “Kunci-kunci surga addalah ucapan shadat laa ilaaha illallah”

Hadits diatas mengandung pengertian bahwa kunci masuk surga adalah iman. Dengan adanya iman pintu surga itu baru bisa dibuka. Tanpa adanya iman selamanya pintu surga itu akan terkunci. Dengan demikian hanya iman yang menjadi jaminan apakah seseorang itu bisa menikmati surga atau tidak. Hanya masalahnya sekarang adalah apakah setiap orang yang punya iman namun tidak punya pahala amal shaleh itu bisa langsung masuk surga?

Disinilah sebanarnya letak akar masalahnya. Memang benar bahwa semua orang yang beriman akan dimasukan surga. Akan tetapi berhubung mereka tak punya nilai pahala dari amal shaleh ditambah dengan mereka yang punya banyak dosa, maka sebelum mereka dimasukan ke surga dosa-dosa mereka harus diberihkan terlebih dahulu, dan tempat pembersihan dosa itu adalah di dalam neraka. Namun jangan dulu khawatir, sebab orang-orang beriman tanpa amal shaleh ini tidak selamanya berada dalam neraka meneriam siksaan pedih.

Dalam hadits nabi Rasulullah Saw bersabda: “(Pada hari kiamat) Allah akan berfirman, “Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang pernah mengucapkan laa ilaaha illallah, “dan di dalam hatinya ada iman walaupun hanya sebesar biji sawi. Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang pernah mengucapkan “laa ilaaha illallah” atau orang-orang yang pernah mengingat-Ku atau yang takut kepada-Ku”

Inilah jaminan yang langsung datang dari Allah, sebesar apa pun dosa yang dipikul oleh seorang hamba, bahkan ia sudah terlanjur masuk ke dalam neraka, jika ia masih punya iman dan pernah mengikrarkan keimanannya itu dalam kalimah syahadat atau kalimah tahlil, maka Allah akan menyelamatkan dan akan mengentaskannya dari siksa api neraka. Meski pun orang tersebut sudah terlanjur masuk neraka sebab keburukan amalnya, ia tetap akan ditarik dari siksaan tersebut.

Published inSurga Neraka