Skip to content

Boleh Tidaknya Azan Dua Kali di Hari Jumat

Boleh Tidaknya Azan Dua Kali di Hari JumatAzan adalah suara yang dikeluarkan dikala ingin melaksanakan kewajiban shalat fardhu yang menandakan waktu shalat telah tiba dan tujuannya untuk memanggil orang-orang islam untuk shalat berjamah. Dalam sepekan umat islam memilki hari yang sangat mulia yaitu hari jumat dan biasanya azan di hari jumat dilakuakn sebanyak dua kali. Bagaimana hal ini sudah benar dalam agama islam? Berkut pemaran para ulama kita yang dibahas oleh bacakan.com pada kesempatan ini.

Sejak masa Rasulullah SAW sampai masa pemerintahan Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 MM),  azan untuk salat Jumat dikumandangkan hanya satu kali, yakni setelah imam naik mimbar untuk berkhotbah.

Sedangkan ikamat dikumandangkan setelah imam selesai berkhotbah dan akan melakukan salat berjamaah.

Pada masa Usman bin Affan (644-656 M), saat umat Islam semakin bertambah banyak sebagai hasil penaklukan yang dilakukan Umar bin Khattab ke berbagai daerah, Usman berinisiatif menambah azan menjadi dua kali.

Azan pertama dilakukan di tempat suara bisa terdengar lantang. Setelah itu muazin diam sejenak. Sedangkan azan kedua dilakukan setelah imam naik mimbar untuk berkhotbah.

Sahabat Rasulullah SAW, As-Saib bin Yazid meriwayatkan, seruan untuk shalat Jumat sebagaimana yang terdapat dalam surah al-Jumuah (62) ayat 9 bukan berarti seruan azan. tetapi bermakna seruan imam ketika berkhotbah.

Panggilan berikutnya dilakukan dengan bacaan ikamah (HR Ibnu Huzaimah). Kalimat “qad qamatis salah” dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah, Imam at-Tirmizi, dan Ibnu Khuzaimah berarti ikamah.

Azan dan ikamat disebut dengan istilah al-azanain (dua azan), sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “baina kulli azanain salah” (antara azan dan ikamah ada shalat sunah).

Hal ini sesuai dengan kebiasaan bangsa Arab dalam menyebut dua yang sejenis dan sejalan dengan satu sebutan, seperti al-walidain (ayah dan ibu) atau sunnah al-Umarain (sunah Abu Bakar dan Umar bin Khattab).

Published inFatwa